Daya Saing Indonesia di Bawah Singapura, Ini Respons Darmin

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan pidato pembuka saat menghadiri pembukaan Indonesia Investment Forum 2018 di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa 9 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa

    Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan pidato pembuka saat menghadiri pembukaan Indonesia Investment Forum 2018 di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa 9 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia menempati peringkat ke-45 dari 140 negara dalam Indeks Daya Saing Global yang dirilis World Economic Forum 2018. Artinya, Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand yang masing-masing menempati posisi kedua, ke-25 dan ke-38.

    Baca juga: Indonesia Targetkan Peringkat 40 Global Daya Saing Infrastruktur

    Menanggapi hasil tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui bahwa peringkat daya saing Indonesia memang masih di bawah negara-negara tersebut. "Masa mau bersaing dengan Singapura, yang negaranya kecil," ujar dia di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat, 19 Oktober 2018.

    Meski berada di bawah tiga negara yang sama-sama berada di Asia Tenggara, Darmin bersyukur dengan adanya peningkatan peringkat ketimbang sebelumnya. Sebab, sebelumnya Indonesia menduduki peringkat ke-47.

    "Artinya ada perbaikan pelan-pelan walaupun tidak menanjak banget tapi membaik," kata Darmin. Untuk itu, ia mengatakan pemerintah terus melakukan perbaikan di berbagai lini, termasuk soal perizinan melalui Online Single Submission.

    Perbaikan daya saing juga bakal dilakukan di beberapa sektor yang menjadi penilaian, misalnya persaingan di dalam negeri dan kualitas tenaga kerja.

    Sebelumnya, dilaporkan bahwa Indeks Daya Saing Global 2018 diukur dengan metodologi baru. Laporan daya saing global 2018, menyebutkan bahwa di tengah perubahan teknologi yang cepat, polarisasi politik dan pemulihan ekonomi yang rapuh, sangat penting untuk mendefinisikan, menilai, dan mengimplementasikan jalur baru pertumbuhan dan kemakmuran.

    Dengan produktivitas menjadi penentu paling penting dalam pertumbuhan dan pendapatan jangka panjang, Global Competitiveness Index 4.0 baru menyoroti serangkaian faktor-faktor penting yang muncul untuk produktivitas dalam Revolusi Industri Keempat (4IR).

    Sebanyak 98 indikator dalam indeks diambil dari lembaga-lembaga internasional dan survei para eksekutif perusahaan dan sebagian besar mencerminkan kebijakan jangka panjang, seperti berinvestasi dalam keterampilan digital

    Simak berita tentang Indonesia hanya di Tempo.co

    CAESAR AKBAR | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.