Pertumbuhan Ekspor Melambat, BI: Karena Harga Komoditas Rendah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesepeda melintas di depan deretan mobil yang di parkir di pelabuhan mobil Tanjung Priok, Jakarta, 18 Mei 2015. Bank Indonesia mencatat ekspor kendaraan dan suku cadangnya meningkat 5,5 persen (year on year/YoY) terutama terjadi pada negara tujuan Arab Saudi, Filipina, dan Jepang. Tempo/Tony Hartawan

    Pesepeda melintas di depan deretan mobil yang di parkir di pelabuhan mobil Tanjung Priok, Jakarta, 18 Mei 2015. Bank Indonesia mencatat ekspor kendaraan dan suku cadangnya meningkat 5,5 persen (year on year/YoY) terutama terjadi pada negara tujuan Arab Saudi, Filipina, dan Jepang. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan menurunnya ekspor pada September 2018 disebabkan oleh rendahnya harga komoditas, misalnya batubara. Belum lagi, saat ini Cina sebagai salah satu negara yang permintaan komoditasnya cukup tinggi, tengah mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi.

    Baca juga: Ekspor Mobil Januari-September 2018 Naik 104 Persen

    "Jadi wajar permintaan ke komoditas agak melambat," ujar Perry di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 15 Oktober 2018. Kendati demikian, Perry bersyukur nilai ekspor masih naik ketimbang tahun lalu. "Cuma memang untuk menggenjot lebih tinggi lagi kalau hanya bertumpu pada komoditas agak susah."

    Oleh karena itu, Perry menekankan pentingnya mendorong ekspor dari sisi manufaktur. Peningkatan ekspor memang diperlukan oleh Indonesia guna menekan defisit transaksi berjalan agar tidak melebar.

    Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2018 mencapai US$ 14,83 miliar atau menurun 6,58 persen dari bulan sebelumnya. Namun, dibandingkan September 2017, ekspor meningkat 1,70 persen.

    "Penurunan ekspor dari Agustus ke September disebabkan dua faktor karena penurunan ekspor migas dan non migas," kata Direktur Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantornya.

    Yunita mengatakan ekspor nonmigas sebesar US$ 13,63 miliar atau turun 5,67 persen dibanding Agustus 2018. Dibandingkan ekspor September 2017 naik 3,78 persen.

    Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari - Agustus 2018 mencapai US$ 134,99 miliar atau meningkat 9,41 persen dibandingkan periode yang sama 2017. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai US$ 122,31 miliar atau meningkat 9,29 persen. 

    Yunita mengatakan penurunan terbesar ekspor nonmigas September 2018 terhadap Agustus 2018 terjadi pada mesin peralatan listrik sebesar US$ 98,2 juta. Sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$ 75,3 juta atau 18,86 persen.

    Menurut dia, sektor ekspor non migas hasil industri pengolahan Januari - September 2018 sebesar naik 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada ekspor hasil tambang dan lainnya naik 31,65 persen, sedangkan ekspor hasil pertanian turun 8,33 persen.

    "Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari - September 2018 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 22,76 miliar atau 16,86 persen," ujar Yunita.

    Yunita mengatakan posisi kedua ekspor terbesar, yaitu Jawa Timur dengan nilai US$ 14,26 miliar atau 10,56 persen dan posisi ketiga, yaitu Kalimantan Timur senilai US$ 13,67 miliar atau 10,13 persen.

    CAESAR AKBAR | HENDARTYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.