BPS: Mandatori B20 dan PPh 22 Belum Terlihat Tekan Impor

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Yunita Rusanti mengatakan penerapan kebijakan penggunaan bahan bakar solar dengan campuran biodiesel 20 persen atau mandatori B20 belum terlihat menekan impor.

    Baca juga: Impor September Turun, Sri Mulyani: Trennya Sudah Mulai Membalik

    "Dengan adanya kebijakan B20, ini pun kami belum terlalu kelihatan, karena B20 itu kan sebetulnya pencampuran dengan yang nabati 20 persen biodiesel," kata Yunita di kantornya, Senin, 15 Oktober 2018

    Harapannya, kata Yunita, paling tidak impor yang diesel bisa berkurang dengan adanya penambahan yang 20 persen itu. "Jadi kami belum tahu ke depan, mudah-mudahan itu membantu menurunkan impor. Kami lihat nanti bulan depan seperti apa," ujar Yunita.

    Yunita juga mengatakan kebijakan PPh 22 impor terhadap 1.147 hs code masih kecil pengaruhnya terhadap penurunan impor. "Jadi PPh itu kan memang diturunkan per tanggal 5 September, tapi mulai berlakunya itu seminggu setelah. Jadi belum terlalu berpengaruh," ujar Yunita.

    BPS mencatat nilai impor Indonesia pada September 2018 mencapai US$ 14,60 miliar. Yunita mengatakan angka tersebut menunjukkan penurunan 13,18 persen dibandingkan Agustus 2018.

    "Jika dibandingkan September 2017 meningkat 14,18 persen," kata Yunita.

    Yunita mengatakan impor nonmigas September mencapai US$ 12,32 miliar atau 10,52 persen dibandingkan Agustus 2018. Angka tersebut menunjukkan peningkatan 13,54 persen dibandingkan September 2017.

    "Penurunan impor nonmigas terbesar September 2018 dibandingkan Agustus 2018 adalah golongan mesin/peralatan listrik US$ 259,5 juta atau 13,22 persen, sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan buah-buahan sebesar US$ 42,2 juta atau 66,46 persen," ujar Yunita.

    Sedangkan, kata Yunita, impor migas September mencapai US$ 2,28 miliar atau turun 25,20 persen dibandingkan Agustus 2018. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan 17,75 persen dibandingkan September 2017.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.