Sri Mulyani: Arah Membaik, Perdagangan Nonmigas Positif

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan sambutannya pada sesi Global Market Award Ceremony dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Sabtu, 13 Oktober 2018. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga dua kali menjabat Menteri Keuangan RI di masa presiden SBY dan Jokowi. ANTARA/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku senang dengan neraca perdagangan pada September 2018 yang tercatat surplus sebesar US$ 230 juta. "Senang dengan arahnya sudah mulai membaik dari sisi neraca perdagangan, terutama nonmigas, September sudah menunjukkan positif," kata Sri Mulyani di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 15 Oktober 2018.

Baca: Jadi Menkeu Terbaik, Sri Mulyani Dianggap Sukses Kumpulkan Pajak

Dalam laporan Badan Pusat Statistik yang diumumkan pada hari ini, surplus neraca perdagangan terjadi dipicu oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$ 1,3 miliar. Adapun sektor migas defisit US$ 1,07 miliar.

Menurut Sri Mulyani, meski aspek migas masih tercatat negatif, ia berharap dengan adanya penerapan bahan bakar biodiesel 20 persen atau B20 bisa menurunkan konsumsi migas. "Sehingga, nanti akhir tahun bisa tercapai positif. Tetapi trennya sudah benar, meski rate-nya harus akselerasi lebih cepat," ujarnya.

BPS juga mencatat total impor Indonesia di September 2018 sebesar US$ 14,60 miliar atau menurun sebesar 13,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sri Mulyani melihat, penurunan impor bulan ini sebagai dampak kebijakan menaikkan tarif 1.147 barang impor yang masuk.

Meski total impor bulan ini turun, Sri Mulyani menilai tingkat pertumbuhannya secara tahunan masih terlalu tinggi. "Impor walaupun growth-nya turun, tapi yoy (year on year) masih 14 persen, itu masih terlalu tinggi," kata dia.

Lebih jauh Sri Mulyani berharap ekspor industri manufaktur bisa bertumbuh lebih cepat. "Karena pertumbuhan ekspornya masih sangat kecil, belum meningkat," katanya.

Sebelumnya Sri Mulyani memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit pada tahun ini akan lebih besar dari tahun sebelumnya. Ia mengatakan pada 2016 dan 2017 defisit transaksi berjalan sebesar US$ 17 miliar sedangkan tahun ini pada semester I sudah US$ 13,5 miliar.

"Waktu ekonomi kita mulai pick up dengan growth di atas 5,3 persen muncul lah impor melonjak sangat tinggi. Ekspor naik, naik kesalip oleh impor dan kita harus bekerja keras untuk mengidentifikasi lagi kenapa impor naik, kenapa ekspor kita tidak naik secepat impor," kata Sri Mulyani saat HUT Indonesia Eximbank ke-9 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin, 24 September 2018.

Sri Mulyani mengatakan berdasarkan estimasi, defisit transaksi berjalan hingga akhir tahun akan mencapai US$ 25 miliar. Karena itu, Sri Mulyani mengatakan Indonesia harus lebih mempersiapkan agar ekspor lebih baik lagi.

Baca: Sri Mulyani: Kawasan Asia Timur Hadapi Lima Tantangan Ini

"Selama CAD kita masih membesar, saya tidak akan berhenti ngomel ke Kementerian Keuangan. Pressure itu akan terus saya lakukan. Jangan berharap saya akan jadi nice enough. Terus saya akan minta do more do more, ini belum cukup," kata Sri Mulyani.

HENDARTYO HANGGI






Rupiah Berhasil Menguat Sore Ini, Sentimen Inflasi RI dan Pengetatan Bank Sentral Eropa

12 menit lalu

Rupiah Berhasil Menguat Sore Ini, Sentimen Inflasi RI dan Pengetatan Bank Sentral Eropa

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada sore ini, Selasa, 4 Oktober 2022.


Sri Mulyani Beberkan Tantangan untuk Capai Target Inklusi Keuangan 90 Persen

1 jam lalu

Sri Mulyani Beberkan Tantangan untuk Capai Target Inklusi Keuangan 90 Persen

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendorong agar target inklusi keuangan Indonesia pada tahun 2024 sebesar 90 persen bisa tercapai.


Bertemu Dubes Jepang, Menhub Minta Percepatan Kerja Sama Proyek Proving Ground

7 jam lalu

Bertemu Dubes Jepang, Menhub Minta Percepatan Kerja Sama Proyek Proving Ground

Menteri Perhubungan atau Menhub Budi Karya Sumadi bertemu dengan Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji. Apa saja yang dibahas?


Sri Mulyani: Perubahan Iklim Akan Menjadi Kejutan Global Selanjutnya Setelah Pandemi

23 jam lalu

Sri Mulyani: Perubahan Iklim Akan Menjadi Kejutan Global Selanjutnya Setelah Pandemi

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengingatkan perubahan iklim merupakan ancaman global yang sangat serius sesudah pandemi COVID-19.


Pedagang Ini Sebut 90 Persen Beras di Batam Hasil Selundupan Impor: Ngeri-ngeri Sedap

1 hari lalu

Pedagang Ini Sebut 90 Persen Beras di Batam Hasil Selundupan Impor: Ngeri-ngeri Sedap

Salah satu pedagang beras di pasar induk Cipinang menyatakan mayoritas beras yang beredar di Batam adalah selundupan impor dari Vietnam.


Begini Cara Mengurus Dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)

1 hari lalu

Begini Cara Mengurus Dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)

Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) adalah dokumen surat pemberitahuan yang wajib dibuat eksportir sebagai tanda bukti jaminan legalitas barang.


Kian Dilirik Pasar Ekspor, Ini Ragam Manfaat Tepung Mocaf

1 hari lalu

Kian Dilirik Pasar Ekspor, Ini Ragam Manfaat Tepung Mocaf

Tepung mocaf adalah tepung yang dibuat dari singkong dengan prinsip modifikasi sel dan fermentasi.


Pesan Sri Mulyani untuk 2.397 Lulusan STAN 2022: Pemimpin Tidak Menipu, Mengkhianati, Manipulasi

1 hari lalu

Pesan Sri Mulyani untuk 2.397 Lulusan STAN 2022: Pemimpin Tidak Menipu, Mengkhianati, Manipulasi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hadir menyampaikan pidato kepada lulusan 2.397 Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN hari ini.


BPS Catat Kunjungan Turis hingga Agustus 2022 Naik 2.000 Persen Lebih

1 hari lalu

BPS Catat Kunjungan Turis hingga Agustus 2022 Naik 2.000 Persen Lebih

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisman ke Indonesia melalui pintu masuk utama mencapai 1,73 juta orang.


BPS Sebut Kenaikan Harga Bensin Sebabkan Inflasi Tahunan 5,95 Persen

1 hari lalu

BPS Sebut Kenaikan Harga Bensin Sebabkan Inflasi Tahunan 5,95 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyebutkan bahwa bensin menjadi pemicu inflasi hingga mencapai 5,95 persen.