Ekonom: Analogi Ekonomi Global Mirip Game of Thrones Tepat Sekali

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akun Twitter @HBOAsia memajang meme Presiden Jokowi berpakaian ala salah satu tokoh dalam Game of Thrones| Twitter HBO Asia

    Akun Twitter @HBOAsia memajang meme Presiden Jokowi berpakaian ala salah satu tokoh dalam Game of Thrones| Twitter HBO Asia

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastadi mengatakan analogi game of thrones yang digunakan Presiden Joko Widodo untuk menggambarkan kondisi ekonomi dunia, tepat.

    "Analogi game of thrones tepat sekali," kata Fithra saat ditemui di Warung Daun Cikini, Sabtu, 13 Oktober 2018.

    Baca juga: Tim Sukses Jokowi Tanggapi Pidato Prabowo Soal Ekonomi Kebodohan

    Fithra mengatakan ketika memainkan Game of Thrones, siapapun yang memainkan itu akan mati, baik yang kalah maupun yang menang, tidak ada yang kemudian untung. Menurut Fithra dalam konteks trade war antara Amerika dengan Cina, kalau terus terjadi ada potensi kontraksi output global sekitar 0,8 persen.

    "Artinya, ini sangat buruk sekali buat pelaku ekonomi atau buat negara dalam konteks global," ujar Fithra.

    Sementara, kata Fithra Presiden AS Donald Trump dengan kebijakan yang sangat unilateral ingin memaksakan itu dalam konteks memenuhi janji-janji konsitituennya. Jadi, kata Fithra semuanya menderita sebagai akibat adanya perang ini.

    "Yang paling menderita itu negara-negara Asia, terutama Asia Timur, emerging market yang sangat mengandalkan perdagangan internasional. Pak Jokowi mengatakan kita bakal menghadapi musuh yg lebih besar. musuh yg lbh besar itu potensi krisis, itu ya krisis akibat adanya trade war," kata Fithra.

    Sebelumnya Jokowi menyebutkan bahwa bahwa kondisi ekonomi global saat ini seperti dalam serial Game of Thrones. Menurut dia, dalam serial ini beberapa great houses dan great family bertarung hebat antara satu dengan lainnya, memperebutkan kekuasaan untuk mengambil alih kembali The Iron Throne.

    "Yakni evil winter, yang ingin merusak dan menyelimuti seluruh dunia dengan es dan kehancuran," kata Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara Plennary Meeting, di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018.

    Perebutan kekuasaan itu, kata Jokowi, seperti roda yang berputar sehingga menimbulkan great house yang berjaya tetapi ada juga yang mengalami kesulitan. Namun, para great houses tersebut lupa bahwa tatkala sibuk bertarung seru dengan yang lain mereka tidak sadar akan adanya ancaman besar dari utara.

    Karena itu, Jokowi mengatakan, di dunia nyata, kondisi itu serupa dengan kondisi saat ini yang mana balance of power atau aliansi antar negara negara maju sepertinya tengah mengalami keretakan. Sementara lemahnya kerja sama dan koordinasi telah menyebabkan terjadi banyak masalah. Hal ini ditunjukkan oleh lonjakan drastis harga minyak dan juga kekacauan di pasar mata uang yang dialami oleh negara emerging market.

    Pertarungan tersebut menimbulkan adanya negara yang mengalami dan menikmati pertumbuhan pesat, namun di banyak negara terdapat pula pertumbuhan yang lemah atau tidak stabil. Selain itu, perang dagang semakin marak, dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang, banyak negara juga mengalami tekanan pasar yang besar.

    Pujian atas pidato ekonomi Jokowi juga disampaikan oleh Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde. "Saya juga berterima kasih kepada Presiden telah menyampaikan pidato yang sangat baik, kami begitu kurang berhasil untuk menyampaikan yang sama," ujar Lagarde sambil sedikit tertawa.

    HENDARTYO HANGGI | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.