Senin, 17 Desember 2018

Bos IMF: Kita Perlu Reformasi Sistem Perdagangan Global Agar Adil

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (kiri) saat Asean Leaders Gathering di sela-sela rangkaian Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis 11 Oktober 2018. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa

    Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (kiri) saat Asean Leaders Gathering di sela-sela rangkaian Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis 11 Oktober 2018. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Bali- Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde menyerukan kepada 189 negara yang hadir dalam Plenary Meeting IMF-World Bank 2018 untuk mengedepankan kerja sama dalam menghadapi tantangan perekonomian dunia.

    Baca juga: Pertemuan IMF, 14 BUMN Jalin Kerja Sama Investasi Hingga Rp 202 T

    "Dalam dunia yang sudah saling terintegrasi seperti saat ini, tak ada satu negara pun yang bisa selamat mengatasinya sendirian. Kita perlu bekerja sama," ujarnya, di Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018.

    Lagarde menjelaskan tantangan yang pertama datang dari ketegangan hubungan perdagangan. IMF memprediksi dampak dari ketegangan ini adalah potensi penurunan produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi global hingga hampir 1 persen dalam dua tahun mendatang.

    "Kita perlu melakukan reformasi pada sistem perdagangan global untuk membuatnya lebih baik, adil, dan kuat untuk seluruh negara," ucapnya.

    Kesenjangan juga dihadapi oleh perekonomian dunia, yaitu masih adanya negara yang menderita defisit neraca transaksi berjalan (CAD), di satu sisi ada pula negara yang sudah mencatatkan surplus besar dalam neracanya. "Untuk melindungi stabilitas ekonomi dibutuhkan kerja sama antara kedua negara, saling mendukung satu sama lain," ujarnya.

    Lagarde melanjutkan tantangan lain yang tak boleh diabaikan adalah peningkatan kerentanan utang. Adapun berdasarkan catatan IMDF, total utang pemerintah dan swasta global mencapai US$ 182 triliun atau mencapai 224 persen dari PDB global. Kondisi ini 60 persen lebih tinggi kondisi di 2007 silam. "Kondisi pengetatan moneter negara maju kemudian menjadi angin balik bagi aliran modal yang tadinya berada di negara berkembang."

    Dia pun mengingatkan kepada para pengambil kebijakan agar melengkapi ketahanan ekonomi negaranya dengan jaring pengaman finansial. "Salah satunya dengan meningkatkan kekuatan perekonomian domestiknya," ucap Managing Director IMF tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".