Senin, 22 Oktober 2018

Elektabiitas Jokowi Bisa Terpengaruh Akibat Tak Tegas soal BBM

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden inkumben Jokowi menunjukkan nomor urut untuk pilpres 2019 di gedung KPU, Jakarta, Jumat, 21 September 2018. Jokowi, yang berpasangan dengan calon wakil presiden Ma'ruf Amin, mendapatkan nomor urut 1. REUTERS/Darren Whiteside

    Calon presiden inkumben Jokowi menunjukkan nomor urut untuk pilpres 2019 di gedung KPU, Jakarta, Jumat, 21 September 2018. Jokowi, yang berpasangan dengan calon wakil presiden Ma'ruf Amin, mendapatkan nomor urut 1. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio angkat bicara soal kisruh pengumuman rencana kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM jenis premium dan kemudian dibatalkan oleh pemerintah kemarin. Ia khawatir tidak kompaknya suara dalam satu kabinet malah akan merugikan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

    Baca: Jokowi Batalkan Kenaikan Harga BBM Premium karena Rakyat Kecil?

    Hendri mengingatkan, khususnya terkait kebijakan kenaikan harga BBM akan mempengaruhi secara tak langsung terhadap elektabilitas Jokowi dalam pemilihan presiden 2019. "Dampak langsung mungkin tidak. Tapi kalau sering miskomunikasi antar pejabat pemerintah, dan itu banyak diingat masyarakat, bisa jadi mempengaruhi," katanya, Rabu, 10 Oktober 2018.

    Oleh karena itu, Hendri meminta pemerintah Jokowi bisa menyamakan pendapat dulu sebelum memutuskan kebijakan. "BBM ini hal penting, pengaruhnya besar, ya. Jangan lagi lah miskomunikasi, ini sudah sering," ucapnya.

    Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga BBM jenis Premium batal naik. "Atas perintah dan arahan bapak Presiden, premium batal naik, " kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi. Hingga saat ini keputusan menaikkan harga BBM jenis premium masih menunggu evaluasi dari banyak hal, salah satunya dari kesiapan PT Pertamina (Persero).

    Sebelum pengumuman Agung, Menteri ESDM Ignasius Jonan sempat menyebutkan harga BBM jenis Premium akan naik dari Rp 6.550 menjadi Rp 7.000 per liter tepat pada pukul 18.00 WIB, Rabu, 10 Agustus 2018. Hal tersebut berkaitan dengan penyesuaian harga dari BBM nonsubsidi oleh  PT. Pertamina (Persero) sebelumnya.

    Sebelumnya, perusahaan pelat merah itu telah menaikkan harga BBM non PSO di SPBU, khususnya Pertamax Series dan Dex Series, serta Biosolar. Kenaikan harga berlaku di seluruh Indonesia pukul 11.00 WIB.

    Baca: Maju Mundur Kenaikan BBM, Komunikasi Kabinet Jokowi Dipersoalkan

    Atas ketentuan tersebut, maka Pertamina menetapkan penyesuaian harga. Sebagai contoh di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax Rp 10.400 per liter, Pertamax Turbo Rp 12.250 per liter, Pertamina Dex Rp 11.850 per liter, Dexlite Rp 10.500 per liter, dan Biosolar Non PSO Rp9.800 per liter," seperti dikutip dari situs Pertamina. Pertamina mengklaim harga BBM nonsubsidi yang ditetapkan ini masih lebih kompetitif dibandingkan dengan harga jual di SPBU lain. 

    ANTARA

    Simak berita lainnya terkait Jokowi hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.