Senin, 22 Oktober 2018

Ekonom: Risiko Terlalu Besar Jika Jokowi Naikkan BBM Bersubsidi

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas tengah melakukan pengisian bahan bakar jenis premium di SPBU kawasan Matraman, Jakarta, Kamis 11 Oktober 2018. Awalnya harga premium diberitakan akan naik 7 persen dari Rp 6.550 menjadi Rp 7.000 per liter. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas tengah melakukan pengisian bahan bakar jenis premium di SPBU kawasan Matraman, Jakarta, Kamis 11 Oktober 2018. Awalnya harga premium diberitakan akan naik 7 persen dari Rp 6.550 menjadi Rp 7.000 per liter. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Center of Reform on Economics Piter Abdullah mengatakan risiko terlalu besar jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBMbersubsidi. Hal tersebut merespons pemerintah yang sempat berencana menaikkan BBM bersubsidi kemarin, namun tidak jadi.

    Baca: Selain soal BBM, Ini 3 Pernyataan Kontroversial Ignasius Jonan

    "Memang agak mengherankan kenapa sepertinya tidak ada koordinasi antar kementerian untuk urusan yang begitu penting ini. Tapi menurut saya itu tidak penting, yang lebih penting sekarang adalah harga BBM Premium, Solar dan bahkan Pertalite tidak ikut naik," kata Piter saat dihubungi, Kamis, 11 Oktober 2018.

    Piter yakin pemerintah tidak akan menaikkan BBM bersubsidi sampai pertengahan tahun depan.

    "Agak riskan bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM subsidi, karena risikonya terlalu besar baik untuk perekonomian, maupun untuk kepentingan politik pemerintahan Jokowi (Presiden Joko Widodo)," kata Piter.

    Piter menilai kenaikan harga BBM subsidi akan menjadi bahan bagi kubu oposisi untuk menjatuhkan pemerintah.

    Menurut Piter menaikkan BBM bersubsidi akan berdampak besar terhadap kenaikan harga atau inflasi sekaligus menggerus daya beli. "Akibatnya konsumsi akan turun dan berujung tidak tercapainya pertumbuhan ekonomi, tidak tercapainya penyerapan tenaga kerja," kata Piter.

    Sebelumnya pada pukul 17.50 WITA Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM, Ignasius Jonan mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM Premium menjadi Rp 7000 per liter mulai hari ini, Rabu, 10 Oktober 2018. Kenaikan harga ini, kata Jonan, akan berlaku di wilayah Jawa, Madura dan Bali.

    "Pemerintah mempertimbangkan Premium mulai hari ini jam 18.00 WIB, paling cepat,  tergantung dari persiapan Pertamina mensosialisasikan sebanyak 2500 SPBU yang menjual Premium naik sekitar 7 persen," kata Jonan saat mengelar konferensi pers di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Rabu, 10 Oktober 2018.

    Jonan mengatakan untuk kenaikan Premium di Jawa, Madura dan Bali naik dari Rp 6.550 per liter menjadi Rp 7.000 per liter. Sedangkan, kenaikan di luar Jawa, Madura dan Bali naik menjadi Rp 6.900 per liter dari sebelumnya, Rp 6.450 per liter.

    Pada pukul 19.00 WITA Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan pemerintah belum menaikkan harga BBM Premium hari ini.

    "Jadi kami baru tahu tadi setelah Pak Jonan sampaikan pengumuman bahwa akan naik dan kemudian kami tanyakan Menteri Rini, apakah bisa dilaksanakan atau tidak, Menteri Rini melakykan kroscek dengan Pertamina dan sampaikan bahwa kami tidak siap untuk menaikkan dua kali dalam satu hari," kata Fajar saat menggelar konferensi pers di Indonesia Paviliun, Nusa Dua, Bali, Rabu, 10 Oktober 2018.

    HENDARTYO HANGGI | DIAZ PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.