Grab Luncurkan Dua Layanan Baru: GrabCar Plus dan Sewa GrabCar

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Grabcar logo. www.malaysianwireless.com

    Grabcar logo. www.malaysianwireless.com

    TEMPO. CO, Jakarta - Grab Indonesia meluncurkan dua layanan GrabCar terbaru yaitu GrabCar Plus dan Sewa GrabCar. Marketing Director Grab Indonesia Mediko Azwar mengatakan kedua layanan baru GrabCar itu menawarkan layanan yang lebih baik mulai dari kualitas pengemudi, kemudahanan pemesanan dan kenyamanan berkendara.

    BACA: Dukung Asian Para Games, Grab Beri Diskon Untuk Penonton

    Ia menjelaskan tidak ada spesifikasi mobil yang digunakan untuk layanan tersebut. "Untuk GrabCar Plus penumpang bisa mendapatkan pengemudi bintang 5, bisa dapat lebih cepat mobilnya dengan waktu tunggunya paling lama 10 menit dalam kondisi waktu normal dan kendaraannya nyaman," ujar di Ritz Carlton Mega Kuningan, Rabu, 10 Oktober 2018.

    Sedangkan untuk Sewa GrabCar merupakan layanan yang memungkinkan mobilisasi penumpang lebih dari satu titik. Penumpang, kata Medico, bisa memilih berapa lama ingin menggunakan layanan Sewa GrabCar dengan minimal waktu 4 jam sampai 12 jam.

    BACA: Dukung Asian Para Games, Grab Siapkan 500 Armada Ramah Disabilitas

    "Waktunya fleksibel mulai dari 4 jam sampai 12 jam, harganya juga transparan dan sudah termasuk bensin dan fee juga," kata dia. Namun, ia mengatakan biaya tersebut belum termasuk tol dan parkir. "Kalau itu belum, tidak termasuk," ujarnya.

    Medico menjelaskan GrabCar Plus dan Sewa GrabCar baru bisa digunakan untuk wilayah di Jakarta dan Surabaya. Layanan tersebut, kata Medico, akan lebih difokuskan dikawasan central business district atau CBD seperti Sudirman, Thamrin dan Kuningan. "Bisa diperpanjang ke Kokas dan Central Park juga."

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.