Selasa, 23 Oktober 2018

Melantai di BEI, The Duck King Bakal Ekspansi ke Pasar Vietnam

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • The Duck King. Instagram.com

    The Duck King. Instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Jaya Bersama Indo Tbk (Perseroan), pengelola jaringan restoran chinese food terbesar di Indonesia resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten dengan kode perdagangan DUCK tersebut, menawarkan sebesar 513.330.000 lembar saham dengan harga Rp 505 per saham melalui mekanisme Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO).

    Baca juga: Krisis Argentina Bakal Jadi Sentimen Negatif bagi BEI

    PT Jaya Bersama Indo Tbk (Perseroan) Dewi Tio mengatakan nilai tersebut setara dengan 40 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah IPO.

    Dewi mengatakan penawaran umum perdana saham perseroan ini mendapatkan respon yang positif dan antusiasme dari masyarakat yang besar, di mana tercermin dari over subscribe pooling yang mencapai lebih dari 80 kali. Hal ini terjadi terutama disebabkan oleh kinerja keuangan Perusahaan yang baik dan harga penawaran saham yang menarik yaitu valuasi Price Earning Ratio (PER) tahun 2018 sebesar 5,8 kali dengan asumsi menggunakan proyeksi net income tahun 2018.

    Perseroan menjadi emiten ke-43 yang tercatat di BEI tahun 2018 atau emiten ke-606.

    "Perseroan mengadakan program Employee Stock Allocartion (ESA) dengan mengalokasikan 0,006 persen dari jumlah penerbitan saham yang ditawarkan atau sebanyak 30.000 saham," kata Dewi di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu, 10 Oktober 2018.

    Selain itu, kata Dewi perseroan juga menerbitkan opsi saham untuk program Management and Employee Stock Ownership Program (MESOP) sebanyak-banyaknya 10 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO atau sebanyak-banyaknya 128.333.000 lembar saham.

    Sesuai dengan prospektus, kata Dewi Perseroan akan mengalokasikan sebesar 80 persen dana hasil IPO untuk ekspansi bisnis, membuka gerai baru dan merenovasi gerai yang ada. Sedangkan sisanya, ujar Dewi sebesar 20 persen untuk modal kerja.

    Lebih lanjut Dewi mengatakan gerai baru akan dibuka pada sejumlah kota besar di Indonesia antara lain di Jawa, Bali, Sulawesi dan Kalimantan. Selain itu, menurut Dewi perseroan juga akan berekspansi ke luar negeri dengan menyasar pasar di Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Perusahaan memiliki tiga merek utama, yaitu The Duck King, Fook Yew, dan Panda Bowl, serta tujuh sub-merek dari The Duck King untuk menangkap permintaan di segmen konsumen kelas menengah yang sedang tumbuh di Indonesia.

    Dewi mengatakan pada tahun 2017 perseroan berhasil membukukan kenaikan pendapatan sebesar 23,4 persen dari Rp 436 miliar pada tahun 2016 menjadi sebesar Rp 538 miliar pada tahun 2017. Adapun EBITDA naik 118,2 persen dari Rp 62 miliar pada tahun 2016 menjadi Rp 134 miliar pada tahun 2017. Margin EBITDA mencapai 24,9 persen. Sedangkan net margin tahun 2017 sebesar 13,5 persen, dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 72 miliar.

    Sedangkan kata Dewi total aset meningkat 18,3 persen dari Rp 447 miliar pada tahun 2016 menjadi Rp 529 miliar pada tahun 2017. Total Ekuitas naik 32 persen dari Rp 241 miliar pada tahun 2016 menjadi Rp 318 miliar pada tahun 2017. Total Kewajiban naik 2,3 persen dari Rp 206 miliar pada tahun 2016 menjadi Rp 211 miliar pada tahun 2017.

    Sedangkan current ratio naik dari 1,9 kali menjadi 2,2 kali. ROE turun dari 36,7 persen menjadi 22,6 persen. ROA turun dari 19,7 persen menjadi 13,6 persen, dan debt to equity ratio (DER) stabil, yakni sebesar 0,2 kali.

    Simak berita tentang BEI hanya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.