Sabtu, 15 Desember 2018

Rupiah Melemah, BCA: Sejak 98 Kita Belajar, Perbankan Lebih Siap

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CEO BCA Jahja Setiaatmadja di sela kegiatan Leadership Sharing Session 100 Bankir di Hotel J.W. Marriot Mega Kuningan, Jakarta Pusat, 28 November 2017. TEMPO Yohanes Paskalis Pae Dale

    CEO BCA Jahja Setiaatmadja di sela kegiatan Leadership Sharing Session 100 Bankir di Hotel J.W. Marriot Mega Kuningan, Jakarta Pusat, 28 November 2017. TEMPO Yohanes Paskalis Pae Dale

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk atau BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan ketimbang pada masa krisis 1998, pada tahun ini perbankan lebih siap menghadapi kondisi nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi belakangan ini.

    "Perbankan kita sejak 1998 belajar, sehingga mengelola dolar itu sudah lebih baik," ujar Jahja di Grand Ballroom Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 9 Oktober 2018.

    Baca juga: Sri Mulyani Jelaskan Penyebab Rupiah Melemah hinga Rp 15.218

    Salah satu contohnya, kata Jahja, perbankan kini tidak lagi berspekulasi, serta tidak ada pinjaman yang terlalu banyak dalam dolar AS. "Sehingga, menurut saya industri perbankan harusnya lebih siap."

    Meski melihat pelemahan rupiah terjadi, kata Jahja, mata uang negara lain juga mengalami hal serupa. Oleh karena itu, sepanjang tidak ada kepanikan, kondisi perbankan masih bisa terkendali.

    "Justru yang perlu diperhatikan itu adalah sektor riil karena bahan baku produk-produk kita itu masih impor," ujar Jahja.

    Ketergantungan kepada barang impor, menurut dia, sedikit banyak bisa menyebabkan harga-harga barang ikut terdongkrak. Kenaikan harga-harga, selanjutnya akan berdampak kepada angka inflasi di dalam negeri.

    "Kita doakan kita bisa terus kendalikan inflasi sehingga inflasi tidak terlalu tinggi. karena kita kan harus balance ya antara kurs, suku bunga, dan inflasi," kata Jahja.

    Mengenai suku bunga, Jahja sedikit menyoroti langkah kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25 basis poin, setara dengan kenaikan suku bunga The Fed. "Ada kenaikan suku bunga, tapi kurs juga tetap meningkat harganya," kata dia. Menurut dia, akan lebih efektif apabila kala itu BI menaikkan suku bunganya 50 basis poin, kendati itu akan membebani dunia usaha.

    "Ini buah simalakama, yang dipilih kenaikan 0.25 dengan ada sedikit pelemahan rupiah," tutur Jahja. "Yang penting kita bisa jaga inflasi tidak terlalu tinggi, jadi harga barang tidak melonjak tinggi."

    Nilai tukar rupiah kian melemah pada Selasa, 9 Oktober 2018. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, kurs rupiah hari ini menginjak level Rp 15.233 per dolar AS.

    Angka tersebut lebih lemah 40 poin ketimbang pada Senin, 8 Oktober 2018. Kemarin, nilai tukar rupiah berada di level Rp 15.193 per dolar AS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penyerangan Polsek Ciracas Diduga Ada Konflik TNI dan Juru Parkir

    Mabes Polri akan mengusut penyerangan Polsek Ciracas yang terjadi pada Rabu, 12 Desember 2018 dini hari. Diduga buntut konflik TNI dengan juru parkir.