Selasa, 11 Desember 2018

Sri Mulyani Usul Pertemuan IMF - World Bank Bahas Triasuransi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gaya Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mencoba podium kepala negara ketika inspeksi kesiapan pertemuan IMF - World Bank di Nusa Dua, Bali, Ahad, 7 Oktober 2018. Pertemuan tahunan IMF - World Bank merupakan pertemuan terbesar yang akan diikuti 189 negara dan dihadiri sejumlah kepala negara. ANTARA.

    Gaya Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mencoba podium kepala negara ketika inspeksi kesiapan pertemuan IMF - World Bank di Nusa Dua, Bali, Ahad, 7 Oktober 2018. Pertemuan tahunan IMF - World Bank merupakan pertemuan terbesar yang akan diikuti 189 negara dan dihadiri sejumlah kepala negara. ANTARA.

    TEMPO.CO, Bali - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengusulkan pembahasan mengenai Disaster Risk Management dan Financing atau Pengelolaan Bencana dan Pembiayaannya dalam Pertemuan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali 8-14 Oktober 2018. Hal ini disampaikan Sri Mulyani melalui kanal Youtube milik Kementerian Keuangan pada Senin, 8 Oktober 2018.

    Baca juga: Sri Mulyani: Pertemuan IMF Juga Bahas Perlindungan Terumbu Karang

    Saya ingin nanti di Bali topik ini menjadi salah satu pembahasan yang penting. Jadi kita masukkan dalam voyage (agenda pembahasan dalam pertemuan)," kata Sri dalam keterangan tertulisnya Senin, 8 Oktober 2018.

    Bendahara negara ini berharap topik tersebut bisa menjadi bahan pembicaraan sekaligus bertukar pikiran bagi negara-negara yang rawan terkena bencana. Sebab, menurut Sri Mulyani, dalam acara ini bakal hadir para ahli baik dari industri asuransi, para menteri keuangan serta lembaga-lembaga multilateral.

    Dengan adanya pertemuan ini, lanjut Sri Mulyani, diharapkan muncul solusi-solusi pengelolaan bencana serta pembiayaannya. "Diharapkan dalam pertemuan ini dapat menciptakan sebuah sistem triasuransi," kata Sri Mulyani.

    Secara lebih spesifik mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menuturkan, pertemuan tersebut diharapkan mampu menghasilkan menghasilkan pemetaan, struktur dan sistem pembiayaan yang dapat dipelajari dan dikembangkan di Indonesia. Khususnya dalam mengelola resiko terhadap bencana alam.

    "Karena ini masalah memanage atau mengelola resiko dan bagaimana resiko itu dipetakan, distrukturkan, kemudian itu dibiayai, dicover, itu semuanya adalah salah satu yang ingin saya belajar dan kembangkan di Indonesia," tutur Sri Mulyani.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.