Selasa, 11 Desember 2018

Luhut Pandjaitan Godok Pembangunan Pusat Logistik Usai Gempa Palu

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani meninjau Pavilion Indonesia saat inspeksi kesiapan pertemuan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali, Ahad, 7 Oktober 2018. ANTARA

    Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani meninjau Pavilion Indonesia saat inspeksi kesiapan pertemuan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali, Ahad, 7 Oktober 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan mengatakan pemulihan Palu pasca gempa dan tsunami memerlukan solusi jangka panjang. Ia mengatakan saat ini sedang merancang rencana pembangunan pusat logistik di daerah aman, yang digerakkan semacam pasukan gerak cepat untuk menjangkau daerah terkena bencana alam.

    Baca juga: Luhut Pandjaitan dan Perwakilan IMF Kunjungi Korban Gempa Palu

    “Pikiran kami untuk mengusulkan logistic base di daerah-daerah yang tidak ada gempa sehingga ada seperti quick reaction force untuk membantu anak-anak atau saudara-saudara kita yang terkena gempa,” kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Sabtu, 6 Oktober 2018.

    Luhut menjelaskan pusat-pusat logistik tersebut akan digunakan untuk menyimpan alat-alat berat, kantong jenazah, makanan, pemurni air, genset dan ada kapal TNI-AL yang bisa mobilisasi dengan cepat. “Dengan adanya support di fasilitas ini diharapkan dalam waktu 3 x 24 jam kebutuhan masyarakat terdampak bencana bisa dipenuhi, sehingga akan banyak nyawa yang bisa diselamatkan,” tuturnya.

    Untuk menentukan lokasi pusat logistik tersebut, Luhut mengaku akan melihat dari hasil studi lebih lanjut. “Kita akan lihat apakah nanti di Banjarmasin atau di Balikpapan, Medan, Surabaya, Makassar atau nanti di Papua Barat,” kata dia.

    Penelitian yang mendalam juga diperlukan dalam hal teknologi penanganan bencana. Untuk itu, kata Luhut, kerja sama dengan para ahli sangat dibutuhkan.

    “Masukan juga kita minta dari Profesor Fumihiko Imamura dari Tohoku University Jepang,” ujar Luhut.

    Selain itu, para ahli dalam negeri juga dilibatkan dalam menyusun solusi jangka panjang lainnya. “Setelah kami lihat, kita memerlukan satu studi yang lebih dalam lagi. Karena tidak mungkin dibangun lagi di beberapa tempat rumah penduduk karena struktur tanahnya amblas (sangat labil)," kata Luhut Pandjaitan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.