Selasa, 23 Oktober 2018

Minta Pemerintah Hemat, Sandiaga: Rapat IMF Cukup Minum Air Putih

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, kunjungan ke Thamrin City, Jakarta Pusat, saat Hari Batik Nasional, Selasa, 2 Oktober 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, kunjungan ke Thamrin City, Jakarta Pusat, saat Hari Batik Nasional, Selasa, 2 Oktober 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno berpendapat pemerintah mesti melakukan penghematan dalam pelaksanaan pertemuan rutin IMF - Bank Dunia, pekan depan. Penghematan itu bisa dilakukan dalam bentuk mengurangi kemewahan dari rapat tahunan itu.

    Baca: Sandiaga Jual Saham Saratoga untuk Beli Obligasi Pemerintah

    "Rapatnya jangan terlalu menghambur-hamburkan (biaya). Kan kalau rapat, rapat saja, minum air putih. Kuncinya penghematan," ujar Sandiaga di Kinanti Building, Jakarta, Jumat malam, 5 Oktober 2018.

    Selain itu, Sandiaga mengatakan acara yang tidak berdampak kepada perekonomian Bali dan cenderung bersifat pemborosan sebaiknya ditinjau ulang lagi. Kegiatan yang bisa dipangkas, kata dia, misalnya makan malam mewah dan penyajian wine dalam acara bersantap itu.

    "Kan dalam keadaan seperti sekarang ada bencana, mungkin harusnya melihat penghematan, barangkali penghematan dan mengimbau agar kita secara nasional melakukan penghematan dan hentikan pemborosan kegiatan-kegiatan seremonial," kata Sandiaga.

    Sikap Sandiaga itu sejalan dengan sikap koalisinya. Koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan Koalisi Adil dan Makmur bersepakat untuk tidak mengirimkan delegasinya ke pertemuan tahunan IMF - Bank Dunia.

    "Sekali lagi saya sampaikan, Koalisi Adil dan Makmur memutuskan tidak mengirimkan delegasinya dalam acara tersebut," kata Dahnil saat konferensi pers di kediaman Prabowo.

    Alasannya, kata Dahnil, pertemuan tahunan itu terlalu banyak memakan biaya dan kondisinya kurang pas dengan situasi Indonesia yang tengah berduka. "Tidak ada kontribusinya," ujarnya.

    Dahnil mengatakan anggaran yang mencapai kurang lebih Rp 1 triliun untuk pertemuan itu terlampau besar. Menurut dia, angka itu terlalu bombastis jika dibandingkan dengan pertemuan IMF-WB di negara-negara sebelumnya.

    "Karena tidak mungkin lagi dibatalkan, Koalisi Adil dan Makmur mengusulkan pada pemerintah untuk menurunkan standar kemewahan pesta pertemuan tahunan IMF dan World Bank," kata Dahnil.

    Di sisi lain, kata Dahnil, Indonesia saat ini tengah berduka akibat bencana yang terjadi di beberapa daerah, yaitu Lombok, Palu dan Donggala. Karena itu, menurut dia, sangat tidak elok apabila pemerintah mengadakan pesta pora di Bali saat sebagian masyarakatnya berduka akibat bencana. "Pun demikian dengan masyarakat yang sekarang sedang kesusahan secara ekonomi," ujarnya.

    Simak berita tentang Sandiaga hanya di Tempo.co

    CAESAR AKBAR | RYAN DWIKY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.