Rupiah Tembus 15 Ribu, UKM Makanan Lebih Cepat Naikkan Harga

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara memperkirakan sektor industri makanan dan minuman tumbuh di atas 10 persen tahun depan. Sektor ini akan terdorong belanja politik hingga 2019 mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara memperkirakan sektor industri makanan dan minuman tumbuh di atas 10 persen tahun depan. Sektor ini akan terdorong belanja politik hingga 2019 mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga di level Rp 15.182 per dolar AS berdasar kurs tengah Bank Indonesia hari ini membuat kalangan industri harus putar akal menyikapinya. Kalangan industri skala usaha kecil dan menengah (UKM) bahkan dinilai lebih cepat merespons pelemahan nilai tukar rupiah itu dibandingkan dengan industri skala besar.

    Baca: Rupiah Tembus Rp 15 Ribu per Dolar AS, BI: Masih Aman

    Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan perusahaan besar cenderung masih mampu menahan kenaikan harga karena memiliki strategi jangka panjang. Rata-rata perusahaan besar menahan kenaikan harga dengan harapan agar penjualan tidak turun hingga akhir tahun, walaupun margin keuntungan tergerus.

    “Kalau yang UKM, sudah banyak menaikkan harga, terutama skala kecil rumah tangga atau pelaku usaha yang tidak punya merek," ujar Adhi, Kamis, 4 Oktober 2018. "Pilihannya mereka menyesuaikan ukuran atau menaikkan harga."

    Adhi menjelaskan pelaku industri UKM di sektor makanan dan minuman terpengaruh oleh harga tepung terigu karena menjadi bahan yang banyak digunakan. Saat ini, harga tepung terigu sudah naik sebesar 10 persen.

    Pelaku UKM juga cenderung mengejar penjualan dan harus untung, sehingga lebih cepat merespon kenaikan harga bahan baku akibat pelemahan rupiah. Kenaikan harga tepung terigu ini juga imbas dari pelemahan nilai tukar, pasalnya bahan baku tepung terigu, yaitu gandum, masih 100 persen diimpor, terutama dari Australia.

    Kendati kondisi industri makanan dan minuman nasional terdampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Adhi menyatakan Gapmmi tidak mengubah target pertumbuhan sepanjang tahun ini. Proyeksi pertumbuhan industri makanan dan minuman selama 2018 sekitar 8-9 persen.

    Sebelumnya, Ratna Sari Loppies, Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), mengatakan harga tepung terigu hanya dipengaruhi oleh nilai tuar dan harga gandum internasional. Faktor lain, seperti kenaikan upah minimum dan tarif energi tidak bakal mempengaruhi harga tepung terigu.

    Baca: Sri Mulyani: Mayoritas Pemicu Melemahnya Rupiah Faktor Eksternal

    "Saat ini faktor itu sudah terjadi, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan harga gandum. Produsen sudah menaikkan harga," ujar Ratna beberapa waktu lalu. 

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.