Hingga Agustus, Realisasi Produksi Batu Bara Sudah 311 Juta Ton

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas tambang batubara yang masuk dalam areal Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslimin, Samarinda Utara. Tambang yang diduga illegal ini dianggap merusak pemukiman warga sekitar dan areal TPU.

    Aktivitas tambang batubara yang masuk dalam areal Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslimin, Samarinda Utara. Tambang yang diduga illegal ini dianggap merusak pemukiman warga sekitar dan areal TPU.

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batu Bara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sri Raharjo, mengatakan realisasi produksi batu bara hingga akhir Agustus 2018 adalah sebesar 311 juta ton. Angka tersebut mencapai 64 persen dari target produksi dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) tahun ini yang sebesar 485 juta ton.

    BACA: Menteri ESDM Restui Ekspor 25 Juta Ton Batu Bara Tanpa DMO

    Dari jumlah tersebut, 102 juta ton dialokasi untuk kebutuhan dalam negeri dan 200 juta ton diekspor. "Kalau dijumlahkan memang angkanya tidak sesuai karena juga ada kebutuhan untuk stok," ujar Sri Raharjo dalam acara diskusi di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Kamis, 4 Oktober 2018.

    Angka realisasi yang disampaikan ESDM meningkat hampir 60 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari data yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, realisasi produksi batu bara pada delapan bulan pertama 2017 adalah 194 juta ton yang terdiri dari 132 juta ton ekspor dan 74 juta ton dalam negeri.

    Tak hanya itu, angka realisasi produksi ini juga meningkat cepat daripada data produksi miliki Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI). Dari data APBI, produksi batu bara pada Semester I 2018 lalu masih sebesar 174 juta ton yang terdiri dari 121 juta ton untuk ekspor dan 53 juta ton untuk domestik.

    Sri Raharjo mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan terjadi peningkatan produksi batu bara yaitu kapasitas produksi saat ini yang juga naik. "Ini karena beberapa perusahaan sudah memiliki feasibility studies (Studi Kelayakan) dan menyelesaikan Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), sehingga produksinya naik," ujarnya.

    Selain itu banyak Izin Usaha Pertambangan atau IUP yang berubah jadi eksploitasi, dari yang semula hanya IUP Eksplorasi. Terakhir yaitu kebijakan penguatan devisa yang menyetujui tambahan produksi batu bara sebanyak 21,9 juta ton, dari yang semula diusulkan yaitu 100 juta ton.

    Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia mengatakan peningkatan produksi ini sejalan dengan kebutuhan batu bara dalam negeri dan ekspor yang akan terus meningkat. APBI mencatat di tahun 2017 saja, sebanyak 97 juta ton batu bara dibutuhkan untuk sejumlah sektor industri seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) hingga Industri Semen, Tekstil, Pupuk, Pulp, dan Briket. Sedangkan dalam Semester I 2018 saja, kebutuhan sudah mencapai 114 juta ton.

    Tak hanya dalam negeri, kebutuhan batu bara untuk ekspor pun juga terus meningkat. Saat ini, devisa hasil ekspor (DHE) batu bara memang menjadi salah satu andalan pemerintah mengendalikan defisit transaksi berjalan. Menurut Hendra, realisasi ekspor per Semester I 2018 telah meningkat 25,32 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.