Rupiah Tembus Rp 15 Ribu per Dolar AS, BI: Masih Aman

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang rupiah. REUTERS/Beawiharta

    Ilustrasi mata uang rupiah. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan nilai tukar rupiah yang saat ini menyentuh Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat, masih aman.

    Baca juga: Rupiah Masih Loyo, Sri Mulyani: Kebijakan Dievaluasi Pekan Ini

    "Masih aman, yang penting suplai dan demand-nya jalan dan banking sector juga kuat," kata Mirza di Kompleks Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 4 Oktober 2018.

    Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah pada Kamis ini berada di posisi Rp 15.133 per dolar AS. Artinya, kurs rupiah melemah dari Rp 15.088 pada Rabu kemarin.

    Mirza mengatakan ketahanan sektor perbankan saat ini baik. Sektor perbankan yang baik, kata Mirza dilihat dari rasio kecukupan modal atau CAR yang saat ini masih di atas 20 persen. 

    "CAR yang mana ini finansial standard diukur oleh internasional itu semua bank kategori buku 1 sampai 4, itu semua CAR-nya di atas 20 persen, jadi strong," kata Mirza.

    Mirza mengatakan risiko untuk rasio kecukupan modal minimum, yaitu 8,5 persen, sedangkan jika memakai risiko, minimum sekitar 14 persen.

    Mirza mengatakan BI juga selalu memperhatikan likuiditas. "BI memang menaikkan bunga tapi bunga yang kami lihat di pasar time deposit kalau BI sudah naikin 150 basis poin, bunga di pasar time deposit itu kenaikannya belum sampai 50 bps, jadi masih terkendali," kata Mirza.

    Menurut Mirza, BI selalu siap membuka keran likuiditas atau term repo. Mirza mengatakan BI pernah membuka keran likuiditas pada Mei. Mirza mengatakan pada Juni BI pasti akan masuk ke pasar untuk tambah likuiditas, jika memang likuiditas rupiah mengetat.

    "Tapi, saat ini likuiditas masih cukup. BI pasti memperhatikan itu. Jadi, kalau kurs jangan lihat angka 15 ribunya, tapi lihat bagaimana volatility-nya, bagaimana lihat suplai demandnya," ujar Mirza.

    Mirza mengatakan Indonesia sudah mengalami volatilitas ini sejak 2013 dari Rp 10 ribu sampai Rp 13 ribu. Tapi, kata Mirza, bukan cuma Indonesia yang mengalami volatilitas. Pun, menurut Mirza, India, Filipina, Meksiko, Brasil, dan Afrika Selatan.

    "Bahkan negara maju yang suku bunganya lebih rendah dari AS juga mengalami pelemahan kurs. Australia juga mengalami pelemahan kurs. Jadi, yang penting suplai demandnya berjalan dengan baik, inflasi juga terjaga dengan baik, jadi jangan terpaku pada level," ujar Deputi Gubernur Senior BI tersebut soal melemahnya nilai tukar rupiah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.