Klaim Ratna Sarumpaet, Dari Penganiayaan Sampai Penjualan PT DI

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratna Sarumpaet. TEMPO/Subekti

    Ratna Sarumpaet. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Ratna Sarumpaet mengaku berbohong terkait penganiayaan yang dialaminya. Dia mengatakan lebam di wajahnya adalah efek operasi sedot lemak di rumah sakit khusus bedah.

    Baca juga: Ratna Sarumpaet Mengaku Bohong Soal Kasus Penganiayaan Dirinya

    "Jadi apa yang saya katakan ini untuk menyanggah bahwa ada penganiayaan," kata Ratna dalam jumpa pers, Rabu, 3 Oktober 2018.

    Sebelum mengklaim dianiaya orang, Ratna Sarumpaet pernah mencuit soal PT Dirgantara Indonesia dijual ke Cina. Dia juga pernah mengklaim pemerintah Jokowi memblokir dana untuk pembangunan Papua.

    Penjualan PT DI
    Pada 4 Mei 2018, lewat akun Twitter @RatnaSpaet, Ratna mencuit soal PT Dirgantara Indonesia dijual ke RRC. Dia menulis bahwa telah ditandatangani pelunasan pembayaran dari RRC ke pemerintah RI awal April terkait kepemilikan PT Dirgantara Indonesia. Namun, saat ini cuitan tersebut sudah tidak ada di akun Twitter Ratna.

    Akibat cuitan tersebut, PT Dirgantara Indonesia melalui akun Twitter resmi @officialptdi menjawabnya. "Pemberitaan mengenai PT Dirgantara Indonesia (Persero) dijual ke pihak asing, kami nyatakan HOAX. Berita ini adalah berita bohong yang berulang dari tahun 2017 lalu," bunyi pernyataan PT DI lewat akun Twitter resmi mereka.

    Tak lama setelah itu, Ratna meminta maaf atas cuitannya terkait PT DI. "Kpd semua pihak yg mrs terganggu/dirugikan - sy MINTA MAAF krn tlh dgn teledor d tanpa sengaja menebar brita hoax ttg PT Dirghantara Indonesia," tulis Ratna dalam akun Twitter @RatnaSpaet.

    Baca juga: Pangkal Mula Cerita Duit Rp 23,9 T Diblokir Versi Ratna Sarumpaet


    Pemblokiran Dana Rp 23,9 T
    Pada 19 September lalu, Ratna menuduh pemerintahan Jokowi memblokir duit Rp 23,9 triliun di rekening warga bernama Ruben P.S Marey untuk pembangunan di Papua. Berdasarkan cerita Ratna, uang Rp 23,9 triliun itu diamanatkan kepada Ruben sejak 2011 oleh Bank Dunia.

    "Itu bukan cuma Rp 23 triliun, ribuan triliun. Maksud saya, yang melapor ke saya kan ada tujuh orang. Dan kalau dana mereka itu dikumpulkan bisa sekitar Rp 1.000 triliun lebih," ujar Ratna kepada Tempo, Rabu, 19 September 2018.

    Pada 21 September, Bank Dunia Kantor Perwakilan Jakarta membantah tuduhan Ratna Sarumpaet. Menurut Bank Dunia, pihaknya tak pernah melakukan transaksi keuangan dengan pihak perorangan.

    "Terkait dengan tuduhan yang keliru baru-baru ini bahwa Bank Dunia terlibat transaksi keuangan dengan pihak perorangan di Indonesia, dengan ini Bank Dunia kantor Jakarta memberikan klarifikasi bahwa tuduhan tersebut tidak benar," tulis Bank Dunia dalam keterangan resmi, Jumat, 21 September 2018.

    Kementerian Keuangan pun membantah tudingan Ratna Sarumpaet. "Pernyataan tersebut sama sekali tidak benar dan ngawur," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Nufransa Wira Sakti kepada Tempo, Ahad malam, 23 September 2018.

    TAUFIQ SIDDIQ | BERBAGAI SUMBER | TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.