BI: Tekanan terhadap Nilai Tukar Rupiah Berkurang Tahun Depan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Perry Warjiyo, melantik pengurus baru ISEI pada Jumat, 21 September 2018. Foto Istimewa

    Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Perry Warjiyo, melantik pengurus baru ISEI pada Jumat, 21 September 2018. Foto Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia atau BI Perry Warjiyo memperkirakan tahun depan tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan berkurang. Perry mengatakan tekanan yang berkurang atau tidak akan seberat tahun ini karena tiga hal.

    Baca juga: Kurs Jisdor, Rupiah Melemah ke Rp 15.088 per Dolar AS Hari Ini

    "Pertama karena kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat) 2019, tidak setinggi tahun ini. Tahun ini empat kali tahun depan diprediksi hanya setengahnya," kata Perry di hadapan anggota DPR Fraksi Partai Golkar, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Selatan, Rabu, 3 Oktober 2018.

    Adapun, suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7 Days Repo Rate diketahui juga telah naik lima kali sejak April 2018 hingga September 2018. Pada April 2018 suku bunga BI bertengger di level 4,75 persen sedangkan per September suku bunga telah mencapai angka 5,75 persen atau setera 150 basis poin.

    Kemudian yang kedua, kata Perry, tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan berkurang karena  investor tak akan selamanya memegang tunai atau dolar Amerika Serikat secara terus-terusan. Bahkan, kata Perry, saat ini sudah banyak investor global yang sudah menanamkan kembali dananya ke banyak emerging market termasuk ke Indonesia.

    Dengan kondisi ini, Perry melanjutkan, arus modal dalam neraca perdagangan Indonesia akan menjadi lebih baik. Sekaligus, dalam hal ini akan menambah cadangan devisa akibat bertambahnya dana segar melalui investasi atau capital inflow.

    Perry menuturkan faktor yang ketiga karena current account defisit atau defisit transaksi berjalan pada tahun depan diperkirakan membaik dibandingkan tahun ini. Hal ini karena pemerintah bersama BI telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk membantu mengurangi defisit transaksi berjalan.

    "Karena itu kami memperkirakan tekanan tahun depan tidak akan lebih tidak berat dibandingkan tahun ini. Oleh karena itu mari kita lakukan gandeng tangan, langkah dan tugas bersama untuk memperbaiki kondisi perekonomian," kata dia.

    Sebelumnya, Bank Indonesia mencatat, neraca pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2018 defisit sebesar US$ 4,3 miliar. Defisit tersebut disumbangkan oleh peningkatan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang tercatat sebesar US$ 8 miliar atau 3,0 persen dari produk domestik bruto (PDB).

    Jumlah itu tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar US$ 5,7 miliar atau 2,2 persen dari PDB. BI memperkirakan tahun depan defisit transaksi bisa mencapai 2-2,5 persen.

    Sementara itu, Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah berada pada angka Rp 15.088 per dolar Amerika Serikat pada Rabu, 3 Oktober 2018. Adapun, di pasar valuta asing, merujuk data RTI, rupiah diperdagangkan sebesar Rp 15.067 per dolar Amerika Serikat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.