Rupiah Melemah, Sandiaga: Karena Kita Gemar Barang Impor

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melayani penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, 8 Mei 2018. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi mendongkrak harga makanan dan minuman olahan usai Lebaran. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas melayani penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, 8 Mei 2018. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi mendongkrak harga makanan dan minuman olahan usai Lebaran. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno mengatakan salah satu penyebab rupiah melemah disebabkan karena masyarakat memiliki kegemaran terhadap produk impor.

    Baca: Perempuan Ini Terobos Pengamanan Serahkan Amplop ke Sandiaga Uno

    "Salah satu penyebab ini kan adalah karena kegemaran kita terhadap produk impor," kata Sandiaga dalam diskusi dengan pengusaha lokal di Warunk Upnormal, Jakarta, Selasa, 2 Oktober 2018.

    Menurut Sandiaga, dengan meluncurkan produk-produk dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan pada produk-produk impor.

    Sayangnya, kata Sandiaga, produk lokal saat ini, 80 persen bahan bakunya merupakan dari produk impor. Karena itu, menurut Sandiaga, harus ada lebih banyak industri yang berbasis subtitusi produk-produk impor.

    "Nah ini yang akan kami dorong prosesnya dan mudah-mudahan dengan pemerintahan yang kuat dengan pola kelemimpinan yang tegas, kita bisa bekerja sama dengan dunia usaha untuk menciptakan industri-industri yang berkembang, sehingga harga bahan pokok khususnya itu bisa distabilkan dan terjangkau," ujar Sandiaga.

    Hari ini nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS hingga menyentuh 15.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi di tengah-tengah kian buruknya sentimen pada aset negara berkembang dilihat dari defisit transaksi berjalan yang kian melebar.

    Pergerakan kurs rupiah pada Selasa, 2 Oktober 2018 sempat menyentuh Rp15.009 per dolar AS dan kembali ke Rp 14.997 per dolar AS, melemah 86,5 poin atau 0,58 persen. Posisi tersebut menjadi yang terlemah sejak krisis keuangan di Asia pada Juli 1998 silam.

    Rupiah melemah hingga lebih dari 9 persen terhadap dolar AS sepanjang 2018. Sementara itu, indeks dolar AS masih mengalami penguatan tipis 0,02 persen di posisi 95,31. Adapun defisit transaksi Indonesia diperkirakan melebar menjadi 2,6 persen.

    Simak berita tentang Sandiaga hanya di Tempo.co

    HENDARTYO HANGGI | BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.