Alasan KAI Yakin Reaktivasi Kereta Jawa Barat Bakal Menguntungkan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Keselamatan PT KAI Apriyono W Cresnanto (kedua kanan) didampingi Kepala Daop II PT KAI Bandung, Saridal (kedua kiri) dan Direktur Operasi PT KAI Slamet Suseno (kiri) memotong pita saat melepas rangkaian baru kereta api Argo Parahyangan di stasiun Bandung, Jawa Barat, 1 Maret 2018. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

    Direktur Keselamatan PT KAI Apriyono W Cresnanto (kedua kanan) didampingi Kepala Daop II PT KAI Bandung, Saridal (kedua kiri) dan Direktur Operasi PT KAI Slamet Suseno (kiri) memotong pita saat melepas rangkaian baru kereta api Argo Parahyangan di stasiun Bandung, Jawa Barat, 1 Maret 2018. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaksana Tugas Direktur Komersial dan Tekonologi Informasi PT Kereta Api Indonesia atau KAI (Persero) Apriyono Wedi Chresnanto yakin reaktivasi atau pengaktifan kembali empat jalur kereta api di Jawa Barat bakal menguntungkan secara komersil. Keuntungan bisa diperoleh seiring dengan tumbuhnya kegiatan perekonomian di daerah yang dilalui kereta nantinya.

    Baca juga: Dirut KAI Bahas Reaktivasi 4 Jalur Kereta dengan Ridwan Kamil

    "Saya punya keyakinan itu," kata Apriyono saat ditemui di acara diskusi publik di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa, 2 Oktober 2018.

    Kendati demikian, kata dia, keuntungan tidak akan diperoleh segera. Apriyono memprediksi keuntungan baru diraup setelah 3 hingga 4 tahun kereta beroperasi.

    Sebelumnya, PT KAI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengumumkan rencana reaktivasi empat jalur yaitu Bandung-Ciwidey, Banjar-Pangandaran, Rancaekek-Tanjungsari, serta Cibatu-Garut. Sejumlah rel saat ini memang tidak aktif dan tak sedikit yang telah ditutupi bangunan rumah warga.

    Saat ini, kata Apriyono, PT KAI memiliki tiga mekanisme tarif yaitu tarif komersil, tarif PSO (Public Service Obligation) atau subsidi pemerintah, dan tarif perintis (sepenuhnya ditanggung anggaran pemerintah). Maka untuk jalur yang memang belum menguntungkan secara bisnis di tahun-tahun awal beroperasi, subsidi silang antar jalur pun sudah biasa dilakukan. "Yang penting bagi kami reaktivasi ini jalan dulu, kalo mikir seperti itu (keuntungan segera) ya enggak jalan-jalan, itu lho," ujarnya.

    Apriyono mencontohkan, bagaimana Kereta Commuter Jabodetabek dulunya hanya bisa menjaring 315 ribu penumpang per hari di tahun 2012. Tapi sekarang menjadi 1 juta penumpang per hari karena adanya penambahan gerbong dan perbaikan layanan.

    Selain itu, Apriyono mengatakan kegiatan perekonomian di sejumlah daerah tersebut sangat berpotensi tumbuh ketika ada rel kereta baru. Ia juga mencontohkan perpanjangan KRL dari Stasiun Tanah Abang, Jakarta ke Maja, Banten. "Dulunya tanah di sana (Maja) enggak laku, sekarang laku," ujar mantan direksi PT Kereta Commuter Indonesia tersebut. "Seperti Garut, akan tumbuh home industry kulit, lalu Pangandaran dengan home industry kerang dan ikan," ujarnya.

    Tak sampai di situ, menurut dia, jalur Rancaekek ke Tanjungsari juga sangat berpotensi menggaet banyak penumpang mahasiswa. Sebab, lokasi Stasiun Rancaekek nantinya yang berada tak jauh dari daerah Jatinangor yang diisi kampus seperti Unuversitas Padjadjaran dan Institute Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

    Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan kegiatan survei di keempat jalur sampai hari ini masih berjalan. Ia berharap hasil survei bisa rampung akhir tahun ini dan Detail Engginering Design (DED) bisa selesai akhir tahun 2019. "Syukur-syukur bisa dipercepat, saya membaca, dukungan Pemerintah Daerah ini baik sekali," kata Edi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.