Hari Batik Nasional, Batik Motif Laut di Lamongan dan Perajinnya

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan sedang menyanting batik tulis motif Hijaiyah atau huruf arab di sanggar Batik Sri Asih, Plamongansari, Semarang, 30 Juni 2015. Bulan Ramadhan sanggar batik tersebut serius menggarap berbagai motif Hijaiyah untuk melayani konsumen baik lokal Semarang maupun luar kota. Tempo/Budi Purwanto

    Seorang karyawan sedang menyanting batik tulis motif Hijaiyah atau huruf arab di sanggar Batik Sri Asih, Plamongansari, Semarang, 30 Juni 2015. Bulan Ramadhan sanggar batik tersebut serius menggarap berbagai motif Hijaiyah untuk melayani konsumen baik lokal Semarang maupun luar kota. Tempo/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Lamongan - Seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mengenakan baju batik sebagai penghormatan Hari Batik Nasional pada Selasa 2 Oktober 2018. Tema yang mendominasi yaitu, motif batik bercorak ragam laut, sebagai ciri khas kabupaten di pesisir utara Jawa.

    Baca juga: Hari Batik Nasional Ridwan Kamil Pamerkan Desain Batik Karyanya

    Sebenarnya, pada keseharian, baju batik juga tetap jadi pakaian wajib, yang dikenakan tiap hari Selasa. Keputusan itu telah ditetapkan para bupati Lamongan sebelumnya, dari Bupati Masfuk hingga sekarang ini Bupati Fadeli.

    ”Ya, hari ini baju wajib dikenakan para ASN,” ujar Arief,41, tahun, pegawai di Pemerintah Lamongan pada Tempo, Selasa 2 Oktober 2018. Jadi, lanjutnya, jika hari ini bertepatan dengan Hari Batik Nasional, sebagai hal kebetulan.”Tapi kita memang cinta batik,” katanya.

    Sedangkan motif batik tulis yang dipakai para ASN ini beragam. Tetapi yang dominan adalah laut dengan pelbagai isinya. Termasuk pesisir pantai, ikan-ikan, terumbu karang, teripang dan binatang lain lainnya.

    Data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lamongan, pusat batik di daerah ini, berada di Desa Sendang Duwur dan Sendang Agung, Kecamatan Paciran—sekitar 36 kilometer arah utara Kota Lamongan. Daerah pesisir pantai utara Jawa ini, sudah lebih dari 100 tahun lamanya, jadi pusat rujukan batik di Lamongan.

    Sesuai tradisi, para perempuan di dua kampung itu, punya ketrampilan membatik. Sedangkan para prianya, punya ketrampilan sebagai perajin emas (kemasan).  

    Sebagai catatan, nama Sendang Duwur adalah seorang ulama kharismatik yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama aslinya, yaitu Raden Noer Rahmad, yang dilahirkan pada 1320 masehi silam. Makam dan juga petilasan seperti bangunan candi terdapat di daerah itu.

    Tercatat sekarang ini ada sekitar 400 perajin batik di Lamongan. Mereka ini tersebar di beberapa tempat. Sebagian besar berada di Kecamatan Paciran, kemudian di Desa Parengan Kecamatan Maduran, dan juga di Lamongan Kota. “Jumlahnya bisa lebih,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lamongan, Mohammad Zamroni, pada Tempo Selasa 2 Oktober 2018.

    Untuk merayakan Hari Batik Nasional, Dinas Perindustrian dan Perdagangan menggelar lomba batik Ibu-Ibu PKK Lamongan. Pada Kamis 11 Oktober 2018. Sedangkan jurinya berasal dari para perajin batik dari Paciran, juga perancang busana serta pendidik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara