Selasa, 23 Oktober 2018

Kemenperin Dorong Industri Tingkatkan Nilai Tambah Bahan Baku

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Erlangga Hartarto (kiri) memberikan penghargaan kepada Direktur Utama PT Utomodeck Metal Works Darmawan Utomo (tengah) di acara Innofest di Jakarta, Selasa, 24 Juli 2018. PT Utomodeck satu dari 11 perusahaan yang mendapat penghargaan rintisan teknologi dari Kementerian Perindustrian. Foto: Istimewa

    Menteri Perindustrian Erlangga Hartarto (kiri) memberikan penghargaan kepada Direktur Utama PT Utomodeck Metal Works Darmawan Utomo (tengah) di acara Innofest di Jakarta, Selasa, 24 Juli 2018. PT Utomodeck satu dari 11 perusahaan yang mendapat penghargaan rintisan teknologi dari Kementerian Perindustrian. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perindustrian mendorong industri di dalam negeri agar semakin meningkatkan nilai tambah dari bahan baku yang diimpor guna meningkatkan manfaat bagi perekonomian nasional, misalnya dari hasil kegiatan ekspor.

    BACA: Airlangga Ajak Pelaku Industri AS Investasi di Ekonomi Digital

    "Misalnya di industri tekstil, kita masih impor kapas dari Amerika Serikat, tetapi kita kembalikan ke sana lagi dengan produk jadi garmen. Itu yang lebih baik," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya kepada pers di Jakarta, Sabtu, 29 September 2018.

    Menperin menyampaikan pihaknya memacu peningkatan ekspor produk manufaktur nasional ke Amerika Serikat, yang antara lain meliputi komoditas pakaian, tekstil, dan sepatu. "Untuk itu, kami ikut mengakselerasi penyelesaian perundingan kerja sama bilateral yang komprehensif," ujarnya.

    BACA:Industri Kecil dan Menengah Ikut Terdampak Efek Pelemahan Rupiah

    Salah satu yang ingin disepakati dengan Amerika Serikat, yakni tarif bea masuk untuk ketiga komoditas manufaktur Indonesia tersebut bisa dihapuskan atau nol persen.
    "Kami meyakini, langkah menggenjot ekspor ini, tentu akan mendongkrak produktivitas dan penyerapan tenaga kerja industri," imbuhnya.

    Kemenperin mencatat neraca perdagangan RI dengan AS mengalami surplus pada dua tahun terakhir. Pada 2016, surplus sekitar 8,47 miliar dolar AS, sedangkan di 2017 surplus sebesar 9,44 miliar dolar AS.

    Sementara itu, total nilai ekspor nonmigas RI ke AS mencapai 15,68 miliar dolar AS pada 2016 dan naik di tahun 2017 menjadi 17,14 miliar dolar AS.

    Di samping itu, lanjut Airlangga, pihaknya aktif mengajak pelaku industri AS agar melakukan ekspansi dan investasi baru di Indonesia. "Selama ini mereka banyak investasi di sektor industri ekstraktif. Nah, kali ini, kami mendorong di sektor yang siap memasuki era industri 4.0 atau digital economy," jelasnya.

    Sejalan hal tersebut, Kemenperin bersama pemangku kepentingan terkait sedang fokus menciptakan Indonesia menjadi basis ekosistem digital guna mendukung tumbuhnya investasi di sektor industri 4.0. "Berdasarkan Making Indonesia 4.0, ada lima sektor yang akan menjadi pionir, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika," sebutnya.

    Airlangga optimistis pembentukan ekosistem digital dapat pula menjadi solusi untuk menumbuhkan usaha rintisan (startup) hingga sektor industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.