BI: Pertumbuhan Ekonomi Sampai Akhir Tahun Bisa Kurang dari 5,2 Persen

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur BI Perry Warjiyo (tengah) seusai Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. Kenaikan BI 7-Day Repo Rate ini sebagai langkah penguatan kerangka operasi moneter. TEMPO/Tony Hartawan

    Gubernur BI Perry Warjiyo (tengah) seusai Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. Kenaikan BI 7-Day Repo Rate ini sebagai langkah penguatan kerangka operasi moneter. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia atau BI Perry Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bakal berada di bawah 5,2 persen hingga akhir 2018. Menurut dia, angka tersebut masih berada di bawah angka potensial dari beberapa penghitungan.

    Baca juga: Gubernur BI: Disahkan Peraturan Domestic NDF Berlaku Hari Ini

    Perry mengatakan menurut beberapa metode penghitungan bisa mencapai 5,6 persen hingga 6 persen. "Itu output potensial kita, tapi tergantung metode. Kalau metode seperti filtering itu berarti kurang lebih potensial output adalah 5,6 persen tapi kalau berdasarkan production function bisa sampai 6 persen," kata Perry ditemui usai salat Jumat di Kompleks Bank Indonesia, Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat, Jumat, 28 September 2018.

    Adapun proyeksi ini lebih rendah dari target pertumbuhan yang dicanangkan pemerintah pada awal 2018 yang mencapai 5,4 persen. Dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur BI Kamis, 27 September 2018 kemarin, pertumbuhan masih diproyeksikan berada di level 5,0 persen sampai 5,4 persen.

    Perry menjelaskan proyeksi pertumbuhan inilah yang menjelaskan meski permintaan cenderung naik, inflasi bisa terjaga. Sebab, kapasitas produksi masih mencukupi sehingga tidak terlalu menimbulkan tekanan pada harga-harga barang.

    Dalam kesempatan itu, Perry juga menyampaikan, berdasarkan survei pemantauan harga (SPH) sampai minggu keempat di bulan September 2018, telah terjadi deflasi sebesar 0,06 persen secara month to month dan 3,02 persen secara year on year. Menurut dia, deflasi tersebut menunjukkan bahwa inflasi diperkirakan bakal rendah dan stabil hingga akhir tahun.

    "Hal ini mengkonfirmasi penjelasan kami bahwa akhir tahun ini probabilitas inflasi akan di bawah titik tengah sasaran kami, 3,5 persen plus minus tahun akhir tahun," kata Perry.

    Perry melanjutkan, deflasi terjadi karena harga beberapa komoditas pangan yang terjadi penurunan. Misalnya seperti harga komoditas bawang merah, cabai merah, dan telor ayam yang terus menurun.

    Kemudian, kata Perry, deflasi juga terjadi karena terkoreksinya harga tiket akomodasi angkutan udara. "Kan dulu tingginya tarif angkutan udara terjadi karena momentum lebaran, sekarang ada koreksi pada tarif itu," kata Perry.

    Perry juga menjelaskan, bahwa deflasi juga mengkonfirmasi bahwa tekanan inflasi dari permintaan tetap rendah. Artinya, meski permintaan dalam negeri cenderung naik tapi tekanan inflasi masih tetap rendah. Selain itu, lanjut Gubernur BI tersebut, deflasi mengkonfirmasi bahwa dampak rambatan dari pelemahan nilai tukar tidak merembet kepada inflasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.