BI: Minggu Keempat September Terjadi Deflasi 0,06 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bersiap memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur tambahan di kantor pusat BI, Jakarta, 30 Mei 2018. Bank Indonesia memutuskan kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate 25 basis poin menjadi 4,75 persen untuk mengantisipasi risiko eksternal terutama kenaikan suku bunga acuan kedua The Fed pada 13 Juni mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bersiap memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur tambahan di kantor pusat BI, Jakarta, 30 Mei 2018. Bank Indonesia memutuskan kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate 25 basis poin menjadi 4,75 persen untuk mengantisipasi risiko eksternal terutama kenaikan suku bunga acuan kedua The Fed pada 13 Juni mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMP.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI mencatat berdasarkan survei pemantauan harga (SPH) sampai minggu keempat di bulan September 2018, telah terjadi deflasi sebesar 0,06 persen secara month to month dan 3,02 persen secara year on year. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan deflasi tersebut menunjukkan bahwa inflasi diperkirakan bakal rendah dan stabil hingga akhir tahun.

    Baca: Tiga Pangan Ini Sumbang Deflasi Terbesar

    "Hal ini mengkonfirmasi penjelasan kami bahwa akhir tahun ini probabilitas inflasi akan di bawah titik tengah sasaran kami, 3,5 persen plus minus tahun akhir tahun," kata Perry ditemui usai menjalankan salat Jumat di area Gedung Bank Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, 28 September 2018.

    Sebelumnya, pada Jumat pekan lalu, 21 September 2018, Perry Warjiyo juga telah menyampaikan bahwa dari survei pemantauan harga sampai minggu kedua bulan September diperkirakan terjadi deflasi 0,04 persen month to month dan 3,03 persen secara year on year.

    Adapun, Badan Pusat Statistik atau BPS juga mencatat pada Agustus 2018 terjadi deflasi sebesar 0,05 persen. Angka deflasi ini menyebabkan tahun kalender atau year to date tercatat 2,13 persen, sementara inflasi dari tahun ke tahun atau year on year 3,20 persen.

    Perry melanjutkan, deflasi terjadi karena harga beberapa komoditas pangan yang terjadi penurunan. Misalnya seperti harga komoditas bawang merah, cabai merah dan telor ayam yang terus menurun.

    Kemudian, kata Perry, deflasi juga terjadi karena terkoreksinya harga tiket akomodasi angkutan udara. "Kan dulu tingginya tarif angkutan udara terjadi karena momentum lebaran, sekarang ada koreksi pada tarif itu," kata Perry.

    Perry juga menjelaskan, bahwa deflasi juga mengkonfirmasi bahwa tekanan inflasi dari permintaan tetap rendah. Artinya, meski permintaan dalam negeri cenderung naik tapi tekanan inflasi masih tetap rendah. Selain itu, lanjut Perry, deflasi juga mengkonfirmasi bahwa dampak rambatan dari pelemahan nilai tukar tidak merembet kepada inflasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.