BI Naikkan Suku Bunga Acuan, Menteri Darmin: Apa Boleh Buat

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendampingi Menko Perekonomian Darmin  Nasution  meresmikan jurusan kopi di SMK PPN Tanjung Sari, Sumedang, Jawa Barat, Senin, 24 September 2018. (dok Pemprov Jabar)

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution meresmikan jurusan kopi di SMK PPN Tanjung Sari, Sumedang, Jawa Barat, Senin, 24 September 2018. (dok Pemprov Jabar)

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyebut kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia mau tak mau mesti ditempuh untuk mengimbangi kenaikan suku bunga acuan The Fed.

    Baca: IHSG Berbalik Menguat ke 5.871,43 Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

    "Apa boleh buat, kalau enggak, ya, kita akan tertekan lagi," ujar Darmin di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Jumat, 28 September 2018.

    Dalam kondisi perekonomian global saat ini, Darmin berujar para pemangku kepentingan mesti memilih antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. "Kalau stability-nya terancam, ya stability-nya dulu yang diurusin."

    Artinya, kata Darmin, sekarang sedang masanya Indonesia masuk ke situasi di mana tingkat bunga sedikit lebih tinggi. Ia tak memungkiri kondisi tersebut bakal berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.

    "Ada juga pengaruhnya (ke ekonomi), kalau dibilang enggak ada, ketawa orang. Ya, ada-lah," kata Darmin. Namun, sejatinya, selain dikendalikan oleh pasar, perekonomian bisa dipengaruhi dorongan pemerintah.

    "Tergantung pemerintah bisa mendorong juga enggak dari segi yang lain. Itu sebabnya kemudian kita selain merumuskan kebijakan-kebijakan," kata Darmin.

    Kemarin, BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan 7-Day Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) dari level 5,5 persen menjadi 5,75 persen dengan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing di level 5 persen dan 6,5 persen.

    Keputusan tersebut diambil setelah BI menggelar Rapat Dewan Gubernur BI pada 26-27 September 2018. "Keputusan ini konsisten dalam upaya menurunkan defisit transaksi berjalan ke batas aman," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.

    Perry mengatakan kebijakan itu juga diambil untuk mempertahankan daya tarik pasar domestik, serta memperkuat ketahanan pasar Indonesia di tengah ketidakpastian global.

    Sebelumnya, The Fed memutuskan menaikkan suku bunga jangka pendeknya sebesar 0,25 persen atau 25 basis poin. Hal tersebut merupakan kenaikan suku bunga ketiga tahun ini dan langkah kedelapan sejak akhir 2015. 

    "Mengingat realisasi dan ekspektasi kondisi-kondisi pasar kerja dan inflasi, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan menaikkan kisaran target untuk suku bunga federal fund (FFR) menjadi 2 persen hingga 2,25 persen," kata bank sentral dalam sebuah pernyataan setelah mengakhiri pertemuan dua hari, Rabu waktu setempat, 26 September 2018.

    Dalam pernyataan itu juga, The Fed mengatakan pasar tenaga kerja Amerika Serikat terus menguat dan kegiatan ekonomi telah meningkat pada tingkat yang kuat. Hal ini juga ditunjukkan dengan belanja rumah tangga dan investasi bisnis yang tumbuh tinggi. Tak hanya itu, The Fed juga mengatakan baik inflasi maupun apa yang disebut inflasi inti untuk barang-barang selain makanan dan energi mendekati target bank sentral sebesar 2 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.