Bos Mayapada Siapkan Rp 5 T untuk Bank Muamalat

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bank Muamalat. TEMPO/Dasril Roszandi

    Bank Muamalat. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemilik Mayapada Group, Tahir, dikabarkan menawarkan dana Rp 5 triliun untuk membeli 100 persen saham PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Namun, tawaran itu mendapatkan resistensi dari pemegang saham.

    Simak: Yusuf Mansur Blak-blakan Soal Kerja Samanya dengan Bank Muamalat

    Tahir yang memiliki nama lahir Ang Tjoen Ming dikabarkan maju menjadi investor strategis saat konsorsium perusahaan investasi Lynx Asia, Arifin Panigoro dan Ilham Habibie tengah melakukan proses uji tuntas (due dilligence) pada penawaran saham terbatas (rights issue). “Dia sudah ketemu dengan OJK dan IDB . Dia ingin menjadi strategic investor. Sudah mengajukan surat juga,” ujar seorang sumber, Rabu, 26 September 2018.

    Tahir yang juga menantu pendiri Grup Lippo, Mochtar Riady, menawarkan dana sebesar Rp 5 triliun dalam beberapa skema. Pertama, berupa penyuntikan modal langsung sebesar Rp 2 triliun. Kedua, dalam bentuk surat berharga subdebt sebesar Rp 2 triliun. Ketiga, line credit Rp 1 triliun di pasar uang.

    Dengan tawaran itu, Tahir yang juga memiliki PT Bank Mayapada Internasional Tbk., ingin menjadi pemegang saham pengendali Bank Muamalat, yakni 100 persen. Pemegang saham saat ini tidak hanya terdelusi, tetapi kepemilikan sahamnya menjadi nol.

    Saat dimintai konfirmasi, Tahir tidak membantah mengenai rencana tersebut. Namun, dia membantah bila ingin menjadi pemegang saham pengendali. “Saya hanya membantu, bukan memiliki,” ujarnya, Rabu, 26 September 2018.

    Rencana Tahir untuk mengambil alih Muamalat itu mendapat resistensi dari pemegang saham, baik pemilik mayoritas, seperti IDB, dan pemilik minoritas. Andre Mirza Hartawan, selaku pemegang 1,66 persen saham Muamalat, menyatakan keberatan dengan skema yang ditawarkan Tahir karena akan menghilangkan kepemilikan saham saat ini.

    “Tentunya usulan Pak Tahir akan sulit kami terima walaupun sekarang Muamalat sedang membutuhkan tambahan modal. Kalau Pak Tahir, misalnya masuk dengan Rp 2 triliun, lalu saham existing dianggap 0 atau negatif, tentunya ini tidak bisa diterima.”

    Menurut Andre, Muamalat masih memiliki potensi di pasar sehingga harus benar-benar dicari investor yang membeli saham baru dengan nilai nominal (par value) tanpa merugikan pemegang saham existing, terutama yang minoritas. “Dengan demikian, walaupun pemegang saham existing terdilusi dalam persentase, nilai saham tidak turun,” ujarnya.

    Hal serupa disampaikan mantan Dirut Muamalat yang juga pemegang saham ritel, Zainulbahar Noor. Menurutnya, sangat wajar apabila ada tawar-menawar dalam transaksi pembelian saham. Namun, calon investor tidak pantas menawar harga saham sebesar nol.

    “Penilaian terhadap Bank Muamalat harus tidak semata-mata dari kondisi operasional dan keuangannya tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.”

    Dia berharap calon investor adalah muslim yang mengerti semangat pendirian Bank Muamalat, tidak melupakan peran IDB yang membantu saat krisis, memiliki komitmen dalam mengembangkan ekonomi syariah, serta tidak menimbulkan kekhawatiran dan dampak negatif bagi bank dan masyarakat umum.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.