Sharp Produksi Pabrik Panel Surya di Tiga Negara

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa kelas 11 jurusan listrik memasang panel sel surya di atap sekolah mereka di SMK Prakarya Internasional, Bandung, 30 Mei 2018. Pemasangan ini sebagai salah satu pembelajaran di bidang sumber energi berkesinambungan. TEMPO/Prima Mulia

    Siswa kelas 11 jurusan listrik memasang panel sel surya di atap sekolah mereka di SMK Prakarya Internasional, Bandung, 30 Mei 2018. Pemasangan ini sebagai salah satu pembelajaran di bidang sumber energi berkesinambungan. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Sharp Corporation, melalui Sharp Energy Solutions Corporation (SESJ) memperluas produk panel surya di berbagai wilayah di dunia.  

    Pada Juni, SESJ baru saja mengumumkan pembangunan panel surya di Zamyn Uud, Provinsi Dornogovi, Mongolia yang telah selesai.

    Simak: 2019-2020, Menteri Jonan Pasang Panel Surya di 2.500 Desa

    "Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Sharp dengan Shigemitsu Shoji Co., Ltd. dan Mongolian energy company Solar Tech LLC," seperti dikutip dalam keterangan resmi yang dikutip pada Rabu 26 September 2018.

    Pabrik baru milik ini mampu menghasilkan sekitar 16.5 MW-dc, dengan kapasitas kekuatan tahunan yang diestimasi mencapai 31,162 MWh/tahun. Emisi dari fasilitas ini diharapkan mampu mencegah emisi karbon dioksida dari efek rumah kaca sebesar 24,836 t-CO2 per tahun.

    Pemerintah Mongolia turut menargetkan sekitar 25% energi dari pembangkit tenaga listrik akan berasal dari sumber daya terbarukan. Sepanjang Juni hingga Agustus 2018, terdapat tiga wilayah yang dapat menikmati sumber energi listrik melalui panel surya milik SESJ.

    Sebelumnya pada Desember 2016, Sharpberkolaborasi dengan Shigemitsu Shoji dan lainnya, untuk menyelesaikan pabrik panel surya sebesar 10 MW-dc. Pembangunan ini turut menandakan hadirnya fasilitas solar panel pertama yang ada di Mongolia.

    Pada akhir Agustus 2018, SESJ juga menerima permintaan untuk pembangunan panel surya di Vietnam, tepatnya di Provinsi Binh Thuan dan Long An. Masing-masing panel surya berkapasitas sekitar 49 MW-dc dan untuk kapasitas gabungan sebesar 98 MW-dc.

    Permintaan ini datang dari Gia Lai Hydropower Joint Stock Company dan TTC-Duc Hue Long An Power Joint Stock Company yang beroperasi di bawah payung Thanh Thanh Cong Group (TTC Group) .

    Jumlah listrik yang dihasilkan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 149,740 MWh/tahun untuk gabungan kedua panel surya. Jumlah ini setara dengan jumlah listrik yang dikonsumsi oleh rata-rata 79.353 rumah tangga di Vietnam setiap tahun.

    Pengeluaran dari fasilitas ini termasuk untuk menghindarkan terjadinya emisi dari Efek Gas Rumah Kaca yang mencapai hingga 40,863 t-CO2 per tahun.

    Pemerintah Vietnam juga berencana untuk meningkatkan pembangkit listrik tenaga surya hingga 850 MW pada tahun 2020 dan 12.000 MW pada 2030 mendatang. Pada Juni 2017, pemerintah telah memperkenalkan FIT (Feed-in Tariff) , sebuah sistem untuk mendorong penggunaan energi terbarukan dalam skala yang lebih luas.

    Energi listrik yang dihasilkan dari kedua pembangkit listrik akan termasuk dalam sistem ini.

    Di Indonesia sendiri, pembangunan panel surya telah dilakukan lebih dulu pada Juli 2018 bertempat di Jakabaring Sports City, Palembang. SSEJ bermitra dengan Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi untuk menyediakan panel surya yang telah beroperasi sejak 10 April 2018 dan diresmikan pada 30 Juni 2018.

    Peresmian ini dilakukan oleh Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin bersama perwakilan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Alam, perwakilan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, dan lainnya.

    Pabrik panel surya ini dibangun setelah memenuhi persyaratan dari Joint Credit Mechanism (JCM) Subsidy Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Jepang. Panel surya ini mampu menghasilkan sekitar 1.6 MW-dc dengan kekuatan hingga 1.922 MWh/tahun, yang mampu mencegah emisi gas dari Efek Rumah Kaca sebanyak 917 t-CO2 per tahun.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.