LPS Berharap Pakar Ekonomi Kaji Analisis Perilaku Pasar

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pergerakan saham di layar Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 Maret 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat ini. RTI mencatat, indeks acuan saham domestik turun 30,17 poin atau setara 0,47% ke level 6.412,86.TEMPO/Tony Hartawan

    Suasana pergerakan saham di layar Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 Maret 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat ini. RTI mencatat, indeks acuan saham domestik turun 30,17 poin atau setara 0,47% ke level 6.412,86.TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah mengatakan pakar ekonomi dan akademisi perlu memperdalam analisis dan survei mengenai perilaku pelaku pasar.

    Simak: LPS Naikkan Suku Bunga Penjaminan

    "Pakar ekonomi perlu melakukan studi lebih dalam mengenai perilaku manusia, faktor apa yang paling berperan ketika dia ingin memutuskan sesuatu dalam konsumsi, investasi, dan sebagainya," kata Halim ditemui usai menghadiri LPS Research Fair 2018 di Jakarta, Selasa 25 September 2018.

    Upaya untuk lebih mendalami perilaku tersebut berangkat dari permasalahan dewasa ini yang menunjukkan pelaku pasar sulit diprediksi. Studi tentang bagaimana mengendalikan perilaku yang berkembang menjadi penting.

    Halim menjelaskan bahwa kondisi dunia saat ini berbeda dengan beberapa waktu lalu karena adanya kemajuan dalam perdagangan internasional, digital, dan kecerdasan buatan.

    Hal itu tidak hanya membuat ketergantungan antarnegara semakin besar, namun juga mewujudkan keterkaitan antarpasar semakin kompleks.

    "Bukan tidak mungkin kejadian di suatu negara bisa menimbulkan kerentanan, ditambah perilaku pelaku pasar semakin sulit diprediksi. Implikasinya bagi pembuat kebijakan dan pelaku ekonomi, ini bisa mengubah keputusan," kata Halim.

    Studi yang lebih mendalam mengenai perilaku manusia dalam ekonomi dewasa ini, lanjut Halim, akan mendukung proses pengambilan keputusan para pembuat kebijakan.

    "Jangan terpaku hanya mengatakan fundamental kuat, tetapi harus tahu juga perilaku apa yang akan membuat fundamental itu benar-benar menjadi baik. Ketidakstabilan itu bisa muncul dari mana saja sekarang ini, tanpa kita duga-duga," ujar dia.

    Terkait itu, untuk mendukung peningkatan analisis dan studi mengenai perilaku pasar, LPS menyelenggarakan acara LPS Research Fair 2018 sebagai wadah mendiskusikan riset ilmiah dari para ekonom dan akademisi.

    Riset yang dibahas dan didiskusikan menyangkut bidang stabilitas sistem keuangan, terutama terkait perilaku sisi deposito yang ada di sisi perbankan Indonesia.

    LPS Research Fair 2019 diharapkan mampu menghasilkan masukan yang berguna bagi LPS dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendukung proses pengambilan kebijakan.

    Ekonom senior Iwan Jaya Azis menilai penelitian ekonomi sekarang ini perlu untuk mempunyai kemampuan prediktif.

    "Daya prediksinya tidak harus sempurna. Misalnya krisis, tidak ada yang mampu membuat prediksi mengenai terjadinya krisis, namun bisa memprediksi terjadinya vulnerability walaupun tidak selalu berakhir krisis," ujar dia.

    Azis juga menyoroti bahwa para pembuat kebijakan sering kurang mendalami informasi yang ada. Keputusan pengambilan keputusan sering berdasarkan informasi terakhir saja.

    Simak berita LPS hanya di Tempo.co

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Umumkkan 9 Partai yang Lolos ke Parlemen dalam Pemilu 2019

    Komisi Pemilihan Umum menyatakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan anggota legislatif di pemilu 2019.