Sri Mulyani: Selama Defisit Membesar, Saya akan Terus Ngomel

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan, Sri Mulyani usai menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional Peran Serta Dunia Usaha Dalam Membangun Sistem Perpajakan dan Moneter di Kempinski Grand Indonesia Ballroom. Jakarta, 14 September 2018. TEMPO/Candrika Radita Putri

    Menteri Keuangan, Sri Mulyani usai menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional Peran Serta Dunia Usaha Dalam Membangun Sistem Perpajakan dan Moneter di Kempinski Grand Indonesia Ballroom. Jakarta, 14 September 2018. TEMPO/Candrika Radita Putri

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit pada tahun ini akan lebih besar dari tahun sebelumnya. Sri Mulyani mengatakan pada 2016 dan 2017 defisit transaksi berjalan sebesar US$ 17 miliar sedangkan tahun ini pada semester I sudah US$ 13,5 miliar.

    Simak: Cerita Sri Mulyani Mengenang Mar'ie Muhammad

    "Waktu ekonomi kita mulai pick up dengan growth di atas 5,3 persen muncul lah impor melonjak sangat tinggi. Ekspor naik, naik kesalip oleh impor dan kita harus bekerja keras untuk mengidentifikasi lagi kenapa impor naik, kenapa ekspor kita tidak naik secepat impor," kata Sri Mulyani saat HUT Indonesia Eximbank ke-9 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin, 24 September 2018.

    Sri Mulyani mengatakan berdasarkan estimasi, defisit transaksi berjalan hingga akhir tahun akan mencapai US$ 25 miliar. Karena itu, Sri Mulyani mengatakan Indonesia harus lebih mempersiapkan agar ekspor lebih baik lagi.

    "Selama CAD kita masih membesar, saya tidak akan berhenti ngomel ke Kementerian Keuangan. Pressure itu akan terus saya lakukan. Jangan berharap saya akan jadi nice enough. Terus saya akan minta do more do more, ini belum cukup," kata Sri Mulyani.

    Sri Mulyani mengatakan akan terus memberikan tekanan dan dorongan untuk Kemenkeu untuk terus menjadi lebih baik. Sekaligus, Sri Mulyani juga konsekuen, jika ada hal di Kemenkeu yang menjadi penghalang, Kemenkeu siap terima masukan. "Kita ingin jadi problem solver," kata Sri Mulyani.

    Lebih lanjut Sri Mulyani mengatakan neraca perdagangan hari ini seperti sakit demam. Menurut Sri Mulyani, yang saat ini dilakukan dengan PPh 22 impor terhadap 1.147 jenis barang, itu untuk menurunkan tensi panas.

    "Padahal yang harus dibutuhkan kita meningkatkan ekspornya. Kita harus melakukan dalam jangka pendek yang mungkin bukan paling optimal, tapi untuk menurunkan dan menjaga stabilitas," kata Sri Mulyani.

    Menurut Sri Mulyani idealnya, defisit transaksi berjalan bisa dipecahkan dengan ekspor yang naik, bukan impor yang turun. "Saya berharap dengan sinergi terus menerus dan saya tidak akan lelah mengingatkan semuanya," ujar Sri Mulyani.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.