3 Penyebab Rupiah Menguat Pekan Ini Versi BI

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia atau BI Perry Warjiyo memberikan keterangan kepada wartawan saat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. Bank Indonesia memutuskan kembali menaikkan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reverse Repo Rate 25 basis poin (bps) atau 0,25 persen menjadi 5,5 persen. TEMPO/Tony Hartawan

    Gubernur Bank Indonesia atau BI Perry Warjiyo memberikan keterangan kepada wartawan saat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. Bank Indonesia memutuskan kembali menaikkan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reverse Repo Rate 25 basis poin (bps) atau 0,25 persen menjadi 5,5 persen. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia atau BI Perry Warjiyo menjelaskan ada tiga faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus menguat sepanjang pekan ini.

    Berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR, nilai tukar rupiah pada Jumat, 21 September 2018 menguat pada level Rp 14.824 per dolar AS. Pada awal pekan ini, rupiah di pasar spot tercatat berada di level Rp 14.859 per dolar AS. Adapun, di pasar valuta asing, merujuk data RTI, rupiah juga terus menguat 0,04 persen dan diperdagangkan sebesar Rp 14.785 per dolar AS pada pukul 14.35 WIB.

    Berikut tiga faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar menurut Perry.

    1. Ketegangan Perang Dagang AS dengan Cina Mereda
    Menurut Perry, risiko di pasar keuangan global dan ketegangan perang dagang maupun di pasar keuangan telah mereda. Bahkan terlihat saat ini terlihat investasi global mulai masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia.

    "Fund manajer itu melihat bahwa perang dagang tidak berdampak baik kepada ekonomi Amerika, sehingga mereka mulai menginvestasikan kembali aset portofolio ke berbagai emerging market," kata Perry ditemui usai menjalankan salat Jumat di area Gedung Bank Indonesia, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, 21 September 2018.

    Perry melanjutkan, para investor dan para pelaku ekonomi di dunia telah melihat bahwa kondisi perang dagang antara Amerika dan Tiongkok ternyata tak menguntungkan bagi semua pihak. Bahkan, kata Perry, pasar melihat perang dagang juga tidak berdampak baik bagi ekonomi Amerika Serikat. Sehingga mereka mulai mengalokasikan kembali portofolio investasi dari negara emering market yang sempat ditarik.

    Hal ini, kata Perry, terlihat dari arus modal asing yang mulai masuk meskipun belum besar. "Semoga minggu depan kalau ada lelang SBN, bisa ada inflow. Sejauh ini yang masuk lebih ke pasar sekunder, belum terlalu besar," kata Perry.

    2. Kepercayaan Investor terhadap Kebijakan Pemerintah dan BI
    Menurut Perry, kepercayaan itu terlihat ketika BI berkomunikasi dengan para investor besar yang ada di Singapura, London maupun New York.

    Perry menuturkan, para investor itu, percaya terhadap kebijakan ekonomi yang ditempuh baik di bidang moneter seperti pendalaman pasar valas, maupun kebijakan fiskal untuk ikut menurunkan defisit transaksi berjalan.

    "Kebijakan itu dipandang langkah yang baik sehingga Indonesia dilihat memiliki prospek yang baik dan dibedakan dengan sejumlah negara emerging market lain," kata Perry.

    3. Eksportir dan Pengusaha Jual Valas ke Pasar
    Dengan banyaknya penjualan itu, bisa menambah pasokan valas di pasar sehingga membuat likuditas menjadi lebih banyak.

    Karena itu, Perry mengucapkan terima kasih kepada para ekportir dan pengusaha yang telah menjual valasnya ke pasar. "Saya mengajak seluruh pengusaha untuk semakin banyak menjual valas ke pasar sehingga rupiah bisa makin stabil," kata Perry.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.