Disebut Budi Waseso sebagai Pengkhianat, Ini Kata Bekas Bos Bulog

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti saat mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 23 Januari 2017. Rapat ini membahas tindak lanjut hasil pemeriksaan Semester I BPK tahun 2016, evaluasi pelaksanaan kegiatan tahun 2016 dan rencana kerja tahun 2017. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti saat mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 23 Januari 2017. Rapat ini membahas tindak lanjut hasil pemeriksaan Semester I BPK tahun 2016, evaluasi pelaksanaan kegiatan tahun 2016 dan rencana kerja tahun 2017. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Djarot Kusumayakti angkat bicara soal impor beras setelah secara tidak langsung disebut-sebut Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab menyetujui impor beras. Djarot Kusumayakti tercatat sebagai bos Bulog sebelum Budi Waseso selama kurun waktu Juni 2015 hingga April 2018.

    Baca: Budi Waseso - Enggar Ribut Soal Impor Beras, Jokowi Akan Jelaskan

    Cerita Djarot sekaligus untuk mengomentari Direktur Utama Perum Bulog saat ini, Budi Waseso yang mengatakan impor beras saat ini belum dibutuhkan. Ia juga menyayangkan ada mantan bos Bulog yang menyarankan untuk tetap impor. "Banyak yang menyampaikan Bulog tetap impor dan mesti impor, sayang yang menyampaikan ini mantan Dirut Bulog," ujar dia saat konferensi pers di gedung Bulog, Rabu siang, 19 September 2018.

    Menurut Budi Waseso atau yang akrab disapa Buwas ini, impor beras yang dilakukan harus melalui perhitungan yang benar. Ia meminta agar mantan bos Bulog tersebut tidak menjadi pengkhianat bangsa. "Jangan jadi pengkhianat bangsa ini. Dari mana hitungan dia, kayak orang yang paling pinter aja," ujar Budi.

    Berikut tanya jawab reporter Tempo dengan Djarot Kusumayakti melalui sambungan telepon yang dilakukan pada Rabu malam kemarin.

    Tanya (T) : Apakah Anda saat menjabat sebagai Direktur Utama Bulog menyarankan untuk tetap ada impor beras?

    Jawab (J): Sejauh yang saya pahami, saat itu Bulog pada dasarnya adalah operator yang tugasnya adalah melaksanakan perintah regulator (rapat koordinasi terbatas bidang perekonomian).

    T : Bisa diceritakan mengenai keputusan saat itu, apa saja yang menjadi pertimbangan?

    J : Dalam setiap rapat pada prinsipnya kami hanya mendengarkan argumen-argumen atau pertimbangan pertimbangan yang disampaikan oleh regulator tanpa hak mencampuri apa yang diputuskan oleh regulator.

    T : Berarti Bulog menyetujui hasil Rakortas bidang perekonomian tersebut?

    J : Saya kira bukan menyetujui, namun melaksanakan hasil keputusan.

    T : Melaksanakan hasil keputusan Rakortas. Saat itu pertimbangannya apa?

    W: Kalau pertimbangan perlu atau tidaknya impor itu domain regulator. Sedang kami selaku operator tidak memiliki hal ke sana.

    T : Tadi Direktur Utama Bulog Budi Waseso menyebut mantan bos Bulog jangan mengkhianati bangsa karena menyarankan atau setuju melaksanakan hasil keputusan impor beras itu. Bagaimana Anda melihat komentar tersebut?

    J: Waduh kalau untuk masalah itu saya tidak tahu dan mohon maaf untuk hal tersebut saya tidak berkomentar.

    Baca: Gudang Bulog Penuh, Mendag: Itu Urusan Bulog

    KARTIKA ANGGRAENI

    Simak berita menarik lainnya terkait Budi Waseso hanya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.