Kurs Rupiah Diperkirakan Naik Turun Hingga 2020

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Dampak gejolak pasar keuangan global yang menekan nilai tukar rupiah diperkirakan akan terjadi hingga 2020. Dampak eksternal akan berakhir ketika Bank Sentral AS The Federal Reserve yang memproduksi dolar AS, menyelesaikan normalisasi kebijakan moneternya.

    Baca: Sri Mulyani Minta Pengusaha Tak Panik Hadapi Dinamika Ekonomi

    Direktur Eksekutif Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi di Gedung DPR/MPR/DPD mengatakan meskipun gejolak terhadap rupiah masih akan membayangi hingga dua tahun mendatang, tekanannya tidak akan sebesar tahun 2018 ini.

    "The Fed masih punya rencana menaikkan suku bunga hingga 2020, tapi kan laju kenaikannya sudah berkurang, dan The Fed juga janji normalisasi neraca akan terukur," kata Doddy, Rabu, 19 September 2018.

    Tekanan terhadap rupiah pada dua tahun mendatang akan mereda karena menurunnya dosis kenaikan suku bunga acuan The Fed, dan ekses likuiditas di pasar global karena bertahapnya pengurangan neraca (Balance Sheet) The Fed.

    Pembicaraan dalam rapat The Fed beberapa waktu sebelumnya menyimpulkan bahwa kenaikan suku bunga acuan masih akan terjadi hingga 2020. Konsensus pasar meyakini The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 2-3 kali tahun depan, dari empat kali tahun ini.

    "Hal itu ditambah dengan komunikasi yang transaparan dan terprediksi, sesuai janji The Fed, jadi membuat pasar sudah 'price in' (menyesuaikan). Dengan demikian, gejolak di pasar keuangan global tidak seberat seperti ini," ujar Doddy dalam sebuah diskusi.

    Maka itu, ujar Doddy, perbaikan neraca transaksi berjalan memang harus segera dilakukan. Salah satu caranya dengan menurunkan laju impor yang telah memboroskan devisa.

    Bank Sentral meyakini kebijakan penurunan impor oleh pemerintah, seperti dengan kenaikan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Impor terhadap lebih dari 1000 komoditas, dan juga penerapan kewajiban bahan bakar solar bercampur minyak kepala sawit (B20) akan mengurangi defisit transaksi berjalan pada 2019 dan 2020.

    Dengan perbaikan defisit transaksi berjalan, tekanan terhadap rupiah akibat gejolak eskternal dapat berkurang. Bank Sentral menargetkan defisit transaksi berjalan di bawah tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir 2018. Hingga Juli 2018, defisit transaksi berjalan sebesar 3,04 persen PDB.

    Baca: Hitungan Plus Minus Sri Mulyani Tiap Rupiah Melemah Rp 100 per USD

    Sementara untuk pergerakkan nilai tukar rupiah, hasil sementara perundingan antara Badan Anggaran DPR dan pemerintah, asumsi pergerakkan nilai tukar secara rata-rata pada 2019 sebesar Rp14.500 per dolar AS.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.