Pertamina Bantah Disebut Tak Agresif Eksplorasi Sumur Baru

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PT Pertamina EP tengah menjalankan pengeboran sumur eksplorasi berkode Wolai - 001 (WOL - 001) di Desa Uwelolu, Kecamatan Toili Barat, Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah, 17 Agustus 2018. (Dok. Pertamina EP)

    PT Pertamina EP tengah menjalankan pengeboran sumur eksplorasi berkode Wolai - 001 (WOL - 001) di Desa Uwelolu, Kecamatan Toili Barat, Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah, 17 Agustus 2018. (Dok. Pertamina EP)

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menjawab tudingan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Djoko Siswanto yang menyebut perseroan kurang agresif dalam melakukan eksplorasi sumur baru.

    BACA: Pertamina Buka 2 Gerai Oli Bus dan Truk, Simak Promosinya

    VP Corporate Communication Adiatma Sardjito mengatakan pada 2018 perusahaan energi pelat merah itu telah secara aktif melakukan upaya penemuan cadangan dan peningkatan produksi migas. Di bidang eksplorasi, ujar dia, saat ini Pertamina mencatat telah menyelesaikan seismik 2D sepanjang 153 kilometer.

    "Hingga akhir 2018, diproyeksikan sepanjang 2.590 kilometer," ujar dia dalam keterangan tertulis kepada Tempo, Rabu, 19 September 2018.

    Selanjutnya, Adiatma menuturkan perseroan juga telah melakukan seismik 3D seluas 419 kilometer persegi dan diproyeksikan sampai dengan tahun 2018 seluas 869 kilometer persegi. Kegiatan seismik 2D dan 3D tersebut dilaksanakan di sejumlah wilayah kerja Pertamina EP dan Pertamina Hulu Energi.

    "Selain seismik, Pertamina telah menyelesaikan pengeboran tujuh sumur eksplorasi dan hingga akhir 2018 diproyeksikan sebanyak 17 sumur," kata Adiatma.

    Sebelumnya, Djoko menyebut Pertamina kurang agresif dalam melakukan eksplorasi sumur baru lantaran setiap pemerintah menawarkan wilayah kerja baru kepada publik, perusahaan yang dipimpin oleh Nicke Widyawati itu tidak pernah mau ambil bagiab.

    Alih-alih berinvestasi di dalam negeri, Djoko mengatakan perusahaan energi pelat merah itu malah lebih senang berinvestasi di luar negeri. Padahal, investasi di negeri orang itu belum tentu berhasil.

    "Di Australia, misalnya, sudah ratusan miliar dolar, baru setahun sudah tutup," kata Djoko. Pertamina pernah mengakuisisi hak partisipasi ROC Oil Company Ltd. di lapangan Basker Manta Gummy (BMG), Australia pada 2009. Kala itu, duit yang dikucurkan untuk investasi itu mencapai Rp 568 miliar. "Kita sama-sama harus dorong Pertamina agar investasi di negeri sendiri," ucap Djoko.

    Djoko menegaskan peluang berinvestasi di negeri sendiri masih ada. Buktinya, PT Saka Energi berhasil menemukan cadangan minyak baru. Anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk juga mengikuti lelang untuk dua wilayah kerja minyak dan gas baru.

    BACA: Pertamina Dirikan Taman Bawah Laut di Karimunjawa

    "Kami mendorong Pertamina untuk eksplorasi dan investasi di Indonesia, jangan senangnya hanya lapangan tua," tutur Djoko lagi.

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).