Sampai Kapan Rupiah Bakal Loyo? Begini Prediksi BI

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Akibat anjloknya Rupiah, sebagian pihak menganggap Rupiah adalah mata uang sampah, namun sebagian pihak memprediksi, pekan depan Rupiah akan membaik. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Akibat anjloknya Rupiah, sebagian pihak menganggap Rupiah adalah mata uang sampah, namun sebagian pihak memprediksi, pekan depan Rupiah akan membaik. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI menjelaskan mengenai sampai kapan depresiasi rupiah bakal terus terjadi. Direktur Eksekutif Departemen Internasional, Doddy Zulverdi menjelaskan bahwa depresiasi rupiah akan terus terjadi selama neraca pembayaran terus mengalami defisit.

    Baca: Kurs Rupiah Menguat Setelah Sempat Hampir Sentuh 15.000

    Depresiasi, menurut Doddy, adalah hal yang niscaya bisa terus terjadi selama neraca pembayaran kita defisit. "Kalau current account kita surplus, nilai tukar bisa terapresiasi. Tapi selama masih defisit, rupiah masih akan depresiasi," kata Doddy saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk "Ke mana Arah Rupiah?" di Kompleks Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu, 19 September 2018.

    Menurut data BI, Neraca Perdagangan Indonesia pada kuartal kedua mengalami defisit sebesar US$ 4,3 miliar. Sedangkan defisit transaksi berjalan mencapai angka 3 persen dari PDB atau senilai US$ 8 miliar. Jumlah ini naik dari 2,2 persen pada kuartal sebelumnya.

    Doddy menilai defisit transaksi berjalan yang berada pada posisi 3 persen masih berada dalam posisi yang normal. Selain itu, Doddy mengungkapkan bahwa sepanjang depresiasi yang terjadi masih stabil, pelemahan rupiah masih menjadi hal yang wajar. Sebab kondisi pelemahan nilai mata uang juga terjadi hampir di seluruh negara.

    Dalam kondisi pelemahan nilai tukar itu, kata Doddy, pengendalian defisit transaksi menjadi hal yang penting. Selain itu, pemerintah juga harus memastikan aliran dolar AS melalui investasi bisa terus berjalan.

    "Kalau kita banyak impor, itu memang hal yang perlu diperbaiki, kenapa mudah mengimpor, meski impornya untuk hal yang penting. Lalu, bagaimana caranya agar bisa produksi sendiri di dalam negeri," kata Doddy.

    Menurut data BI, sejak Januari hingga September 2018 atau year to date, rupiah telah melemah sekitar 7,5-8 persen. Sedangkan merujuk data RTI, secara year to date, rupiah telah melemah sebesar 9,81 persen.

    Baca: Rupiah Tembus Rp 14.900, Kemenkeu: Bisa Menguat Karena Undervalue

    Sementara itu, Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR, nilai tukar rupiah berada pada angka Rp 14.896 per dolar Amerika Serikat pada Rabu, 19 September 2018. Adapun, di pasar valuta asing, merujuk data RTI, rupiah diperdagangkan sebesar Rp 14.886 per dolar Amerika Serikat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.