Selasa, 11 Desember 2018

Bos Bulog: Stok Beras Aman Hingga Juli 2019

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik atau Bulog Budi Waseso dan Tjahya Widayanti Dirjen Perdagangan Dalam Negeri saat meluncurkan giat ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu, 6 Juni 2018. Tempo/Hendartyo Hangg

    Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik atau Bulog Budi Waseso dan Tjahya Widayanti Dirjen Perdagangan Dalam Negeri saat meluncurkan giat ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu, 6 Juni 2018. Tempo/Hendartyo Hangg

    TEMPO.CO, Bogor - Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso mengatakan sampai Juli 2019 stok beras aman sehingga tidak perlu impor. "Sampai tadi malam jam 23.00 hasil hitung-hitungan teman-teman dari BIN, Kepolisian, dan orang yang paham, hasil keputusannya sampai Juli 2019 kita tidak perlu impor beras," kata Budi Waseso saat menyampaikan sambutan pada peluncuran Politeknik Pembangunan Pertanian di Bogor, Jawa Barat, Selasa 18 September 2018.

    BACA: Pejabat Kemendag Ungkap Permintaan Impor Beras Kepala Bulog

    Menurut dia, sampai saat ini stok beras nasional masih surplus, meskipun dalam kondisi cuaca kering seperti sekarang. Dari hasil hitungan pemerintah stok beras aman sampai Juli 2019. "Ini bukan kata saya, kata teman-teman. Kalau sudah kata BIN itu, masa saya harus impor," katanya.

    Budi juga mengklarifikasi terkait polemik antara dirinya dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. "Sebenarnya bukan polekmik, saya cuma punya pertanyaan dan perlu jawaban. Kalau polemik untuk apa, saya bukan menteri, saya ini pelaksana di lapangan," katanya. Menurut Budi Waseso, dirinya melihat sendiri bahwa kondisi beras sudah surplus, walau belum banyak.

    Budi mengaku heran ada yang tidak bangga ketika terjadi surplus pangan. Bahkan, kata dia, beras impor yang ada di Bulog itu tidak keluar sama sekali atau tidak terserap. Akibatnya mutunya bisa turun karena disimpan terlalu lama.

    "Kita harus impor untuk apa, nalarnya kan begitu," ujarnya. Budi mengakui dirinya bukan berlatarbelakang bidang pertanian. Namun sejak lama dirinya selalu mengikuti masalah pertanian, ketika masih menjadi anggota kepolisian.

    Budi prihatin melihat Indonesia sebagai negara agraris tetapi malah impor produk pertanian. "Demikian ironis. Saya termasuk orang yang anti impor pangan," katanya. Ia berharap Politeknik Pembangunan Pertanian yang diluncurkan oleh Kementerian Pertanian dapat memperkuat ketahanan pangan Indonesia, dan menjadi negara eksportir pertanian terbesar di dunia seperti China. Menurut dia, China yang hanya punya musim tanam sekali setahun, bukan negara pertanian, tetapi ketahanan pangannya sampai 10 tahun. Berbeda dengan Indonesia yang punya masa tanam dua sampai tiga kali dalam setahun.

    "Kenapa kita kalah sama China, ini pasti ada yang salah, sampai saya bertanya ke pak menteri pertanian, pak ini yang salah di mana," katanya. Meski demikian, bos Bulog ini yakin Indonesia ke depan akan berjaya di sektor pertaniannya, karena merupakan negara agraris.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.