Rupiah Jeblok, Agung Podomoro Yakin 3 Proyeknya Tak Terimbas

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung memadati acara pemilihan unit Podomoro Golf View di Senayan City, Jakarta, 21 November 2015. Survei Perkembangan Properti Komersial yang dilansir Bank Indonesia (BI) pada Jumat (13/11/2015) mengungkap harga properti komersial melemah 1,69 persen secara triwulanan, dan 32,31 persen secara tahunan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Pengunjung memadati acara pemilihan unit Podomoro Golf View di Senayan City, Jakarta, 21 November 2015. Survei Perkembangan Properti Komersial yang dilansir Bank Indonesia (BI) pada Jumat (13/11/2015) mengungkap harga properti komersial melemah 1,69 persen secara triwulanan, dan 32,31 persen secara tahunan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan pengembang PT Agung Podomoro Land Tbk. yakin pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini tak akan mengganggu bisnisnya, khususnya di tiga proyek andalannya. Ketiga proyek itu adalah Podomoro Golf View di Cimanggis, Podomoro City Deli Medan, dan Podomoro Park di Bandung.

    Baca: Kemenkeu: Kurs Rupiah 2019 Bisa Capai Rp 14.700 per Dolar AS

    “Cimanggis itu akhir tahun kita sudah serah terima, kira-kira 4000 unit. Kebetulan itu tower-nya seperti huruf W, ada 1200 unit dan 1600 unit. Penjualan di proyek ini masih oke soalnya berkonsep TOD (transit oriented development),” kata Asisten Vice President PT Agung Podomoro Land Tbk, Alvin Andronicus di Menara Bidakara, Senin, 17 September 2018.

    Alvin menjelaskan, harga rata-rata di Podomoro Golfview itu sekitar Rp 11 juta per meter persegi. Harga ini sudah meningkat sejak perdana sekitar Rp 9,4 juta per meter persegi. Adapun harga per unit sekitar Rp 297 juta dibayar secara tunai, dan sekitar Rp 330 juta jika dibayar dengan cicilan.

    Saat ini, kata Alvin, segmen pasar properti yang dicari oleh konsumen adalah yang bisa memberikan nilai tambah. "Akan ada apa, dilengkapi apa, transportasinya,” ucapnya.

    Selanjutnya, perusahaan dengan kode saham APLN ini akan menggenjot penjualan untuk rumah tapak di Podomoro Golf View. Harga yang ditawarkan mulai R p1,3 miliar secara tunai.

    Adapun ukuran rumah tapak di proyek Podomoro Golf View itu 6x16 meter, 7x17 meter, 8x16 meter, dan paling besar 8x18 meter persegi dengan harga tertinggi Rp 2 miliar. Proyek rumah tapak ini akan diluncurkan tahun depan.

    Alvin yakin permintaan rumah tapak di pasar seperti yang ditawarkan perusahaannya ini masih cukup besar. "Karena orang ingin rumah tapak. Namun semua tergantung biaya yang dimiliki."

    Lebih jauh, menurut Alvin, secara umum permasalahan kesulitan penjualan unit properti bukan hanya dihadapi oleh APLN tetapi hampir semua pengembang. Di kondisi perekonomian sulit yang salah satunya ditandai dengan terus merosotnya nilai tukar rupiah pada tahun ini, Alvin menilai jika perusahaan sudah bisa mencapai 80 persen target pendapatan itu sudah cukup baik.

    Baca: Kurs Rupiah Jeblok Dekati 15 Ribu, Pengusaha Naikkan Harga Terigu

    Nilai tukar rupiah belakangan kembali melemah, bahkan pada siang hari ini di pasar spot rupiah menembus level Rp 14.908 per dolar AS. Padahal rupiah di akhir pekan lalu kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor berada di angka 14.835 per dolar AS.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.