SBY Klaim Sukses Bangun Ekonomi, Indef: Tidak Apple to Apple

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono menyapa kader pada acara Rapimnas di JCC, Jakarta, 7 Februari 2017. Dalam pembukaan Rapimnas SBY menyampaikan pidato politik dengan tema Indonesia untuk Semua. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono menyapa kader pada acara Rapimnas di JCC, Jakarta, 7 Februari 2017. Dalam pembukaan Rapimnas SBY menyampaikan pidato politik dengan tema Indonesia untuk Semua. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kemarin SBY dalam pidatonya mengklaim bahwa banyak kemajuan di bidang perekonomian pada saat dirinya menjabat presiden selama dua periode. Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY saat itu mencontohkan, sejak 2004-2014 ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 6 persen dan pengangguran turun dari 9,9 persen menjadi 5,7 persen.

    Baca: SBY Klaim Sukses Bangun Ekonomi Indonesia di Dua Periode

    “Kemiskinan juga turun dari 16,7 persen menjadi 10,96 persen. Artinya kita bisa menurunkan angka kemiskinan sekitar 6 persen atau setara dengan 8,6 juta orang yang keluar dari jerat kemiskinan,” katanya dalam pidato politik pada ulang tahun ke-17 Demokrat di Jakarta, Senin, 17 September 2018.

    Menanggapi hal tersebut, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan klaim SBY tidak apple to apple dengan kondisi perekonomian global saat ini. "Tidak bisa dilihat hanya dengan angka-angka pertumbuhan ekonomi," ujar Bhima kepada Tempo, Selasa, 18 September 2018.

    Bhima menyebutkan, jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi di era SBY yang mencapai 6 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di era Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang tahun ini diperkirakan berada di level sekitar 5 persen. Akan tetapi, di era SBY inflasi begitu tinggi tapi angka itu dapat diredam di era Jokowi.

    Di era SBY, kata Bhima, Indonesia mengalami commodity boom, yaitu harga minyak mentah mencapai puncaknya tahun 2011 di angka US$ 110 per barel, yang kemudian anjlok menjadi US$ 50 per barel pada 2015. "Jadi ekonomi Indonesia tergantung harga komoditas global," ucap dia.

    Lebih jauh Bhima menjelaskan, di era SBY juga mengalami deindustrialisasi secara besar-besaran. Di mana porsi industri manufaktur di atas 27 persen terhadap PDB tahun 2009 kemudian merosot terus hingga 21 persen pada akhir masa SBY menjabat.

    Oleh karena itu, Bhima menilai setiap presiden memiliki kelemahan masing-masing, terutama di bidang industri. "Era Jokowi pun hampir sama, infrastruktur jadi perhatian tapi industri manufakturnya loyo bahkan tumbuh hanya 3,9 persen pada kuartal II 2018," tutur dia.

    Padahal, menurut Bhima, serapan tenaga kerja dan penyumbang ekonomi paling besar salah satunya dari industri. "Pengelolaan fiskalnya sama-sama bolong di era SBY dan Jokowi."

    Sebelumnya, SBY juga mengklaim banyak kemajuan perekonomian Indonesia. Sejak 2004-2014 ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 6 persen dan pengangguran turun dari 9,9 persen menjadi 5,7 persen.

    Baca: SBY: Infrastruktur Penting, Tapi Rakyat Susah Harus Diperhatikan

    SBY pun menjelaskan selama dirinya menjadi presiden, pendapatan per kapita masyarakat naik lebih dari tiga kali lipat dari Rp 10,55 juta menjadi Rp 36,5 juta. Kenaikan tajam ini membuktikan bahwa kehidupan rakyat makin sejahtera.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.