Defisit Perdagangan Turun, BI: Tekanan Rupiah Mestinya Membaik

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar AS di lokasi penukaran uang di kawasan Kwitang, Jakarta, 28 Maret 2018. Kurs rupiah menyentuh posisi Rp13.745 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu (28/3/2018). TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar AS di lokasi penukaran uang di kawasan Kwitang, Jakarta, 28 Maret 2018. Kurs rupiah menyentuh posisi Rp13.745 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu (28/3/2018). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo optimistis tekanan terhadap nilai tukar rupiah mestinya membaik seiring dengan berkurangnya defisit neraca perdagangan pada Agustus 2018. "Dengan angka ini semestinya tekanan kepada rupiah membaik, bila membandingkan dengan bulan lalu, kecuali estimasi pasar lebih rendah defisitnya," ujar Dody di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin, 17 September 2018.

    Baca: Rupiah Loyo, Ini 3 Jurus Bos Baru Garuda Indonesia Tekan Kerugian

    Badan Pusat Statistik sebelumnya mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2018 mengalami defisit US$ 1,02 miliar. Angka defisit bulan ini lebih kecil jika dibandingkan bulan lalu yakni sebesar US$ 2,01 miliar. Defisit neraca perdagangan tersebut dipicu oleh defisit sektor migas US$ 1,66 miliar, sementara sektor nonmigas surplus US$ 0,64 miliar.

    Dody menilai kebijakan-kebijakan terkait impor yang diambil pemerintah beberapa waktu terakhir ini sebenarnya telah terlihat dampaknya. Dampak tersebut tercermin dari membaiknya defisit neraca perdagangan.

    Hanya saja, dampak itu baru bisa terlihat secara bertahap lantaran kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah, seperti menaikkan tarif pajak penghasilan impor, penerapan biodiesel B20, sampai penundaan proyek-proyek infrastruktur, merupakan kebijakan periode menengah panjang.

    Selain mengurangi impor, Dody mengatakan pemerintah masih memiliki kebijakan untuk mendongkrak ekspor. "Harusnya dengan rupiah yang terdepresiasi bisa jadi faktor untuk kompetitif dari segi ekspor," ujar dia.

    Ke depannya, Dody masih menunggu angka keseimbangan neraca berjalan triwulan III yang akan keluar pada Oktober - November 2018. Ia akan meninjau apakah defisit neraca berjalan bia sesuai dengan proyeksi BI, yakni di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto.

    "Itu batas aman, dan itu selalu kami sampaikan melalui Gubernur dan Dewan Deputi Gubernur lain, ketahanan eksternal kami melihat sisi transkasi berjalan," kata Dody.

    Baca: BI Jaga Instrumen Berdenominasi Rupiah Tetap Menarik

    Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada hari Senin kemarin berada di level Rp 14.859 per dolar AS. Kurs rupiah itu melemah bila dibandingkan posisi Jumat pekan lalu di Rp 14.835 per dolar AS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.