Rabu, 19 September 2018

Sandiaga: Harga Bahan Pokok Naik, Daya Beli Pakaian Dalam Turun

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal calon wakil presiden, Sandiaga Salahuddin Uno, menemui wartawan seusai berenang di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Jumat, 14 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Bakal calon wakil presiden, Sandiaga Salahuddin Uno, menemui wartawan seusai berenang di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Jumat, 14 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon wakil presiden Sandiaga Uno mengaku mendengar keluh kesah dari banyak pedagang saat mengunjungi pasar Lima Marelan, Medan, Sumatera Utara, hari ini. Salah satu keluhan tersebut berasal dari Ibu Epi yang merupakan pedagang pakaian dalam.

    Baca: Sandiaga Persoalkan Lapangan Kerja, Ini Versi Lengkap Survei BI

    Dalam keterangan tertulis yang di keluarkan oleh Sandiaga, Ibu Epi mengeluhkan penjualan pakaian dalamnya menurun, bahkan dalam satu minggu belum ada satupun yang terjual. "Kenaikan harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat untuk bra menurun," ujar Sandiaga, Ahad, 16 September 2018.

    Menurut Sandiaga, stabilitas perekonomian secara mikro bisa berdampak langsung kepada masyarakat khususnya pedagang UMKM dan masyarakat akar rumput atau mereka yang termarjinalkan. "Ini menjadi salah satu bukti ekonomi kita makin dirasa sulit oleh masyarakat yang terdampak langsung seperti ibu Epi. Dan saya yakin banyak ibu-ibu Epi lainnya yang merasakan juga hal yang sama di pasar tradisional," tutur dia.

    Sandiaga berharap kue pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang positif mampu dirasakan bersama-sama oleh bangsa Indonesia. Selain itu, untuk menumbuhkan perekonomian Sandiaga juga akan mendorong masyarakat untuk berzakat, infak, dan sedekah.

    Sandiaga sebelumnya juga menceritakan keluhan Ibu Isni yang didengarnya langsung ketika mengunjungi pasar Lima Marelan, Medan, Sumatera Utara. Sandiaga mengatakan Ibu Isni berharap harga kebutuhan sandang dan papan dapat turun, sehingga terjangkau oleh isi kantong emak-emak. "Kalau bisa bisa tagihan biaya hidup lainnya bisa diturunin, khususnya listrik dan air bersih," ujar Ibu Isni.

    Sebelumnya, dalam kunjungannya ke Pekanbaru dua pekan lalu, Sandiaga juga menerima keluh kesah dari salah satu warga. Dia mengatakan mendapatkan cerita uang Rp 100 ribu, yang hanya dapat dipakai untuk berbelanja bawang dan cabai. Menurut dia, cerita itu didengarnya langsung dari seorang ibu bernama Lia.

    Cerita Ibu Lia ini disampaikan Sandi di depan para wartawan pada Rabu lalu, 5 September 2018, dalam acara bincang-bincang bertajuk "Kiat Sandi Uno untuk Menghadapi Dolar yang Semakin Menggila". Menurut Sandi, kondisi yang dialami Ibu Lia bisa sangat dimengerti karena menguatnya kurs dolar terhadap rupiah akan berdampak pada harga bahan pokok.

    Belakangan cerita Ibu Lia yang disampaikan Sandiaga ini berkembang viral diperbincangkan di banyak media sosial. Akibat cerita ini pula kemudian belakangan muncul gerakan #100ribudapatapa.

    Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudistira Adhinegara, menilai penyataan Sandiaga soal kenaikan harga bahan pokok mengakibatkan daya beli pakaian dalam yang menurun itu salah kaprah. Pasalnya, harga pakaian saat ini relatif terjangkau jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu. "Ini harus based on data. Kritik itu harus berdasarkan data yang kredibel," katanya ketika dihubungi Tempo.

    Baca: Setelah Ibu Lia, Sandiaga Ceritakan Keluhan Ibu Isni dari Medan

    Bhima menjelaskan pemicu penurunan daya beli adalah inflasi. Penyebab inflasi terbagi dalam dua komponen, yaitu pangan dan non pangan. Untuk komponen makanan dia menyebutkan harga beras, telur, dan daging ayam yang dapat membuat gejolak dalam daya beli masyarakat. Kemudian, untuk komponen non-pangan, Bhima menyebutkan, harga properti, BBM, listrik, dan pendidikan yang dapat menyebabkan gejolak.

    Simak berita menarik lainnya terkait Sandiaga hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    TGB Muhammad Zainul Majdi dan Divestasi Tambang Emas Newmont

    KPK mengusut aliran dana ke rekening TGB Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dana itu diduga berkaitan dengan Newmont Nusa Tenggara.