Sandiaga Persoalkan Lapangan Kerja, Ini Versi Lengkap Survei BI

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal calon wakil presiden, Sandiaga Salahuddin Uno, menemui wartawan seusai berenang di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Jumat, 14 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Bakal calon wakil presiden, Sandiaga Salahuddin Uno, menemui wartawan seusai berenang di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Jumat, 14 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon wakil presiden Sandiaga Uno menyebutkan bahwa ketersediaan lapangan kerja sudah masuk pada level pesimistis. Temuan ini, kata dia, diperoleh dari laporan Bank Indoensia atau BI yang dirilis sebelumnya.

    Baca: BI: Bila Intervensi Tak Dilakukan Rupiah Turun Sampai 15 Persen

    "Sekarang sektor manufaktur sudah di bawah 20 persen, juga indeks ketersediaan lapangan kerja masuk ke dalam zona pesimis," kata Sandiaga di Jakarta Selatan, Jumat malam, 14 September 2018.

    Sandiaga menyebutkan, bahwa kebijakan yang ada selama ini kurang berpihak kepada sumber - sumber produksi nasional. Dia pastikan pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno akan hadir memberikan kebijakan yang kuat dan tegas dalam mengambil kendali ekonomi. "Dengan proteksi kepentingan Indonesia, khususnya tenaga kerja Indonesia," katanya.

    "Ketergantungan terhadap lapangan kerja yang sekarang banyak diambil oleh tenaga kerja asing, bisa dipastikan tereduksi secara signifikan," kata Sandiaga. "Karena bisa membangun industri - industri yang menyerap lapangan kerja."

    Jika ditilik dari Survei Konsumen Bank Indonesia per Mei 2018 didapat bahwa indeks ketersediaan lapangan kerja menurun 0,9 poin menjadi 94,6 dengan penurunan terjadi pada responden dg tingkat pendidikan SLTA dan akademi. "Dari sisi usia, indeks ketersediaan tenaga kerja turun pd responden dg kelompok usia 31-50 tahun dan di atas usia 60 tahun," seperti dikutip dari publikasi Survei Konsumen Bank Indonesia per Agustus 2018 yang dirilis Kamis, 6 September 2018 lalu.

    Survei konsumen ini merupakan survei bulanan yang dilakukan BI sejak Oktober 1999. Sejak januari 2007, survei dilakukan terhadap sekitar 4.600 rumah tangga sebagai responden dengan metode stratified random sampling di 18 kota di Indonesia.

    Indeks per kota dihitung dengan metode balance score yang menunjukkan, jika indeks di atas 100 artinya optimistis, dan di bawah 100 berarti pesimistis. Bila dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya yakni Maret (96,1) dan April (95,5), indeks per Mei terlihat lebih turun. Sementara dari hasil survei teranyar, per Agustus 2018 terlihat indeks sebesar 93,9. 

    Meski begitu, menurut survei BI itu, secara keseluruhan dari hasil survei konsumen pada bulan Agustus 2018 itu mengindikasikan bahwa optimisme konsumen tetap terjaga. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2018 yang tetap berada dalam zona optimistis (di atas 100) yakni sebesar 121,6.

    Masih terjaganya optimisme konsumen terutama ditopang oleh ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan. Hal ini didukung oleh masih kuatnya ekspektasi terhadap penghasilan yang diterima dan ekspektasi kegiatan usaha meski tidak setinggi hasil survei bulan sebelumnya.

    Baca: Sandiaga: Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja di Zona Pesimistis

    "Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini juga masih berada pada level optimistis, meskipun tidak sekuat bulan sebelumnya terutama dipengaruhi oleh indikator ketersediaan lapangan kerja," seperti dikutip dari survei konsumen yang dilakukan BI tersebut.  

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.