Sri Mulyani Jelaskan Defisit Neraca Tahun 2018 dengan 2017

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (tengah) mengecek persiapan Asian Games 2018 di Terminal 3 Bandara Soekarno - Hatta, Tangerang, Senin, 13 Agustus 2018. Sri Mulyani menekankan kepada petugas mengenai pentingnya memberikan layanan yang terbaik saat Asian Games berlangsung. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (tengah) mengecek persiapan Asian Games 2018 di Terminal 3 Bandara Soekarno - Hatta, Tangerang, Senin, 13 Agustus 2018. Sri Mulyani menekankan kepada petugas mengenai pentingnya memberikan layanan yang terbaik saat Asian Games berlangsung. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan kondisi keseimbangan eksternal perekonomian Indonesia. Menurut dia, neraca pembayaran Indonesia menghadapi perubahan yang sangat drastis pada tahun 2018.

    Baca juga: Pajak Disesuaikan, Sri Mulyani: Harga Barang Impor Naik 20 Persen

    "Inilah yang harus diwaspadai oleh kita semua tanpa harus menjadi panik," Sri Mulyani dalam akun facebook resminya, Jumat malam, 14 September 2018.

    Pada tahun 2016 dan 2017, transaksi berjalan, yaitu ekspor dikurang impor untuk barang dan jasa, mengalami defisit sebesar US$ 17 miliar alias -1,8 persen dari Produk Domestik Bruto, dan US$ 17,3 miliar alias -1,7 persen dari PDB. Kala itu, ujar dia, defisit transaksi berjalan dapat dikompensasi oleh arus modal dan keuangan yang masuk ke Indonesia sebesar USD 29,3 miliar pada 2016 dan USD 29,2 miliar pada 2017.

    "Sehingga, secara keseluruhan neraca pembayaran masih surplus sebesar US$ 12,1 miliar pada 2016 dan US$ 11,6 miliar pada 2017, sehingga cadangan devisa Indonesia meningkat hingga pernah mencapai tertinggi sebesar US$ 132 miliar," kata Sri Mulyani.

    Memasuki 2018, ujar Sri Mulyani, normalisasi kebijakan moneter menyebabkan pembalikan arus modal dan keuangan dari negara emerging ke Amerika Serikat. Kondisi tersebut, menurut dia, menyebabkan neraca pembayaran mengalami tekanan.

    Normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat, kata Sri Mulyani, dimulai dari kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat dan likuiditas dolar Amerika dikurangi atau diperketat. Selain itu kebijakan fiskal Amerika juga ekspansif dengan penurunan pajak dan belanja yang meningkat.

    "Ditambah kebijakan perang dagang oleh Presiden Trump kepada Eropa dan China dengan kenaikan tarif barang impor ke Amerika Serikat," ujar Sri Mulyani. Dampak dari kebijakan negeri Abang Sam itu lantas dirasakan seluruh dunia dalam bentuk suku bunga dolar meningkat, arus modal ke seluruh dunia terutama ke negara berkembang dan emerging menurun, dan adanya ketidakpastian perdagangan internasional.

    Sebabnya, Sri Mulyani berujar arus modal ke Indonesia yang sebelumnya mencapai diatas US$ 29 miliar pada 2016 dan 2017, kini merosot menjadi hanya US$ 6,5 miliar pada semester I 2018. Penurunan tajam arus modal tersebut ini lantas dihadapkan pada defisit transaksi berjalan pada semester pertama 2018 yang justru meningkat sebesar US$ 13,7 miliar.

    "Akibatnya, secara keseluruhan neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit sebesar USD -8,2 miliar," ujar Sri Mulyani. Defisit neraca pembayaran itu lah yang kemudian menggerus cadangan devisa dan menekan nilai tukar rupiah. "Masalah inilah yang sedang ditangani pemerintah."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.