Selasa, 11 Desember 2018

PT Pindad Luncurkan Mesin Pengisi Otomatis Minyak Goreng Higienis

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Korps Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia membeli ratusan pelontar granat dari Arsenal, pabrik senjata asal Bulgaria. Pembelian ini merupakan impor ketiga dari perusahaan yang sama sejak 2015. Padahal senjata serupa telah diproduksi PT Pindad. Menurut aturan, institusi pengguna wajib membeli senjata yang diproduksi industri pertahanan dalam negeri bila produk tersebut telah dibuat pabrikan lokal.

    Korps Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia membeli ratusan pelontar granat dari Arsenal, pabrik senjata asal Bulgaria. Pembelian ini merupakan impor ketiga dari perusahaan yang sama sejak 2015. Padahal senjata serupa telah diproduksi PT Pindad. Menurut aturan, institusi pengguna wajib membeli senjata yang diproduksi industri pertahanan dalam negeri bila produk tersebut telah dibuat pabrikan lokal.

    TEMPO.CO, Bandung - PT Pindad resmi meluncurkan mesin giling Anjungan Minyak Goreng Hygienist Otomatis (AMH-o), di gedung Kresna, Kantor Pusat Pindad, Bandung, Sabtu, 15 September 2018.  Hadir pula Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita dalam peluncuran mesin pengisi minyak goreng itu.

    Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose mengatakan mesin AHM-o itu dapat bermanfaat untuk pedagang minyak eceran agar lebih higienis. Selain itu, kata dia, produk AHM-o ini tentu lebih murah dibanding dengan mesin serupa yang berasal dari luar negeri.

    "Tujuan kami bagaimana menjadi inisiator membuat dulu AHM-o dan kemudian kita sosialisasi ke masyarakat dan mudahan punya nilai jual kedepannya," ujar Mose di Kantor Pusat Pindad, Bandung, Sabtu, 15 September 2018.

    Mesin pengisi AMH-o itu merupakan hasil kerjasama beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selain PT Pindad, PT Rekayasa Engineering yang merupakan anak perusahan PT Rekayasa Industri (Rekind) juga turut serta dalam pembuatan mesin filling itu.

    "Konsep desain ada di PT Rekayasa Engineering, dan Pindad melakukan pembuatan AMH-0 ini. Produksi kami siap untuk launching jual ke pasar dan mesin ini udah food grade standar," katanya.

    Pengoperasian AMH-o dipacu oleh microcomputer yang berfungsi untuk memastikan akurasi pengukuran. Microcomputer yang tertanam pada AMH-o merupakan sebuah papan layar elektronik yang dilengkapi beberapa tombol yang mudah dioperasikan.

    Selain itu, AMH-o juga dilengkapi dengan modul GPS yang dapat membantu produsen minyak goreng untuk memonitor lokasi unit AMH-o dan volume penjualan minyak goreng, baik secara harian, mingguan atau bulanan.

    Mesin ini difungsikan untuk menyalurkan minyak goreng dalam jerigen ukuran 25 liter sesuai dengan merek dagang Produsen ke kantong kemasan dalam beberapa takaran mulai dari 250, 500 hingga maksimal ada di ukuran 1 liter minyak goreng. Penyaluran minyak  goreng itu menggunakan filling oil system yang terdiri dari pompa, pipa flexible, katup solenoid dan flow meter.

    Mose mengatakan untuk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mesin AMH-o ini mencapai 65 persen. AMH-o, kata dia,  dibuat dalam rangka memenuhi Peraturan Menteri Perdagangan RI nomor 9/MDAG/PER/2/2016 yang mewajibkan peredaran minyak goreng curah menggunakan kantong kemasan sederhana

    "Sekarang kita sudah bikin yang untuk launching ini sudah 20 unit, tapi nanti per hari kita bisa produksi sebanyak 100 unit. Kalau harganya saya bisa kasih bocoran itu kurang lebih 50 persen dari harga impor, yang berkisar antara Rp 15 juta sampai dengan 17 juta," ujarnya.

    Sementara itu, Enggar mengatakan keunggulan mesin AMH-o buatan PT Pindad ini selain bisa mengolah minyak menjadi lebih higienis, harga mesin inipun terbilang lebih murah dibandingkan dengan mesin serupa yang dibeli dari luar negeri.

    "Ini lebih bagus dan lebih murah, ini kualitas bagus kemudian sudah dikalibrasi dari kementrian perdagangan, kemudian ada garansi, kalau dari luar kan belum tentu garansinya, ini Pindad kan bisa dicari kemana-mana," ujar Enggar.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.