Rabu, 26 September 2018

RI - Sri Langka Kerja Sama Ekspor Pakaian Jadi ke Uni Eropa

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Perempuan dan Istri pejabat berada diatas Catwalk saat membawakan gaun Baju Bodo dalam pembukaan fashion show Female on The Move (FEMME) di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 11 Mei 2016. Peragaan busana Baju Bodo karya 5 desainer ini dibawakan oleh 14 model yang merupakan Perempuan dan Istri Pejabat se Sulsel. TEMPO/Iqbal Lubis

    Sejumlah Perempuan dan Istri pejabat berada diatas Catwalk saat membawakan gaun Baju Bodo dalam pembukaan fashion show Female on The Move (FEMME) di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 11 Mei 2016. Peragaan busana Baju Bodo karya 5 desainer ini dibawakan oleh 14 model yang merupakan Perempuan dan Istri Pejabat se Sulsel. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Sri Lanka berkomitmen menindaklanjuti kesepakatan bidang perdagangan, salah satunya adalah upaya bersama kedua negara untuk melakukan ekspor pakaian jadi ke Uni Eropa.

    Baca: 3 Faktor Ekspor Suku Cadang Mobil 2018 Mengalami Pertumbuhan

    “Upaya pengajuan bersama ke Komisi Eropa terkait pengiriman pakaian jadi akan membuka akses pasar ke Uni Eropa. Kita harus melanjutkan pendekatan intensif kita sehingga proposal dapat diterima oleh Uni Eropa,” kata Presiden Joko Widodo dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Kamis, 13 September 2018.

    Berdasarkan Making Indonesia 4.0 Kementerian Perindustrian, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang tengah diprioritaskan pengembangannya sebagai pionir dalam peta jalan penerapan revolusi industri keempat. Pasalnya, industri TPT nasional telah memiliki daya saing tinggi karena struktur manufakturnya sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya juga dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional.

    Kementerian Perindustrian mencatat, sebesar 30 persen pakaian jadi dari hasil industri TPT nasional adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, sedangkan 70 persennya untuk ekspor. Nilai ekspor industri TPT nasional mencapai USD12,58 miliar pada tahun 2017 atau naik 6 persen dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, sektor ini menyumbang ke PDB sebesar Rp150,43 triliun di tahun 2017.

    Jokowi mengharapkan pembentukan kelompok kerja antar kedua negara dapat segera terealisasi guna mengidentifikasi potensi dan mengatasi hambatan dalam perdagangan dan investasi. “Kita harus mendorong agar sidang perdana kelompok kerja tersebut dapat dilaksanakan sesegera mungkin,” ucapnya.

    Selain soal ekspor pakaian jadi, pemerintah juga menawarkan kerja sama membangun fasilitas dan infrastruktur perkeretaapian di Sri Langka. “Jadi bukan hanya untuk menjual gerbong kereta api saja, tetapi juga menawarkan pembuatan sistem persinyalan, rel, hingga depot dan stasiun,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

    Kedua negara juga membahas mengenai tindak lanjut rencana Sri Lanka yang ingin membeli 60 gerbong kereta api yang diproduksi PT INKA. “Ini merupakan salah satu komitmen Presiden Jokowi agar Indonesia dapat berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur di Sri Lanka,” kata Airlangga.

    Airlangga menyatakan Indonesia saat ini termasuk salah satu pemain industri manufaktur sarana kereta api terbesar di Asia Tenggara. Produk industri kereta api dalam negeri telah mampu memenuhi pesanan pasar domestik, bahkan luar negeri khususnya ke negara berkembang dan kawasan regional.

    Baca: Kementerian Perdagangan Bidik Ekspor Mobil Listrik ke Australia

    “Kami terus memacu industri perkeretaapian nasional agar dapat menguasai pasar domestik dan semakin berperan dalam supply chain industri perkeretaapian untuk pasar global,” tutur Airlangga. Untuk itu, Kementerian Perindustrian mendorong PT. INKA terus melakukan kegiatan pembinaan terhadap industri komponen berskala kecil dan menengah sehingga mampu menghasilkan produk yang mutunya sesuai standar dan bisa digunakan dalam industri perkeretaapian.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.