Rabu, 19 September 2018

Meski Untung saat Rupiah Melemah, Perajin Ini Ingin Dolar Stabil

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tas rotan beleke terpajang di stan khusus NTB di Galeri Indonesia Wow, gedung Smesco, Jakarta, Minggu, 26 Agustus 2018. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Tas rotan beleke terpajang di stan khusus NTB di Galeri Indonesia Wow, gedung Smesco, Jakarta, Minggu, 26 Agustus 2018. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Cirebon - Perajin furnitur berbahan baku rotan asal Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengaku mendapat untung akibat nilai tukar dolar AS yang kini menguat dan rupiah melemah.

    Baca: Rupiah Anjlok, Ketua OJK Pastikan Kondisi Perbankan Aman

    "Memang ada peningkatan pendapatan dengan adanya selisih nilai tambah kurs dolar itu naik," kata Perajin furnitur rotan Cirebon, Sumarca di Cirebon, Selasa 11 September 2018.

    Menurut Sumarca, kerajinan furnitur berbahan baku rotan yang diekspor ke luar negeri akan mendapatkan nilai tambah dengan melemahnya rupiah terhadap dolar AS.

    Peningkatan pendapatan yang didapatkannya kata Sumarca, mencapai 5 hingga 10 persen dari sebelum dolar naik, karena dengan adanya kenaikan dolar maka ada selisih yang ia dapatkan saat mengekspor. "Kemarin-kemarin kan sekitar Rp13.000 per dolarnya, terus meningkat sampai Rp15.000 dan selisih itu yang menjadi keuntungan kami," ujarnya.

    Dia mencontohkan harga satu kursi rotan dibandrol 10 dolar, berati ada peningkatan beberapa ribu ketika di rupiahkan.

    Sumarca menambahkan untuk produksi furnitur rotan miliknya itu mayoritas diekspor ke Eropa, seperti Jerman, Itali, Prancis dan lainnya. "Kita setiap bulannya, mengirim lima hingga 10 kontainer ke luar negeri," katanya.

    Meskipun ada peningkatan pendapatan, namun Sumarca mengaku lebih senang ketika dolar itu stabil. Musababnya, bagi dia, semua bisa terjaga tidak terlalu spekulatif dan bahan yang diimporpun tidak naik.

    "Harapan saya nilai tukar rupiah itu stabil jangan fluktuatif, agar terjaga. Tentu ada resikonya bagian kami kalau tak stabil, karena kita kan pengerjaannya sesuai pesanan," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    TGB Muhammad Zainul Majdi dan Divestasi Tambang Emas Newmont

    KPK mengusut aliran dana ke rekening TGB Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dana itu diduga berkaitan dengan Newmont Nusa Tenggara.