Rabu, 14 November 2018

Meski Gonta-ganti Dirut, Ini Sebab Garuda Indonesia Rutin Merugi

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Direktur Keuangan dan Manajemen Resiko Helmi Imam Satriyono, Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury, Direktur Niaga Domestik Nina Sulistyowati dan Direktur Kargo dan Niaga Internasional Sigit Muhartono saat paparan kinerja Garuda Indonesia, di Jakarta, Senin, 30 Juli 2018. Garuda Indonesia berhasil menekan kerugian sebesar 60 persen pada semester I-2018 menjadi US$114 juta atau Rp1,64 triliun. TEMPO/Tony Hartawan

    (ki-ka) Direktur Keuangan dan Manajemen Resiko Helmi Imam Satriyono, Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury, Direktur Niaga Domestik Nina Sulistyowati dan Direktur Kargo dan Niaga Internasional Sigit Muhartono saat paparan kinerja Garuda Indonesia, di Jakarta, Senin, 30 Juli 2018. Garuda Indonesia berhasil menekan kerugian sebesar 60 persen pada semester I-2018 menjadi US$114 juta atau Rp1,64 triliun. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nama Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk. Pahala Nugraha Mansury santer disebut akan dicopot dari posisinya saat ini. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki wewenang terkait keputusan ini dalam Rapat Umum Pemegang Sama Luar Biasa atau RUPSLB, Rabu besok, 12 September 2018.

    Baca: Pahala Nugraha Siap Dicopot Sebagai Dirut Garuda

    Meski begitu, Pahala telah siap dengan segala keputusan Kementerian BUMN nantinya. "Kalau sudah ditugaskan harus siap misalnya diganti," kata Pahala di Garuda City Center, Cengkareng, Senin, 10 September 2018.

    Dalam perjalanan selama ini, pergantian posisi dirut Garuda kerap identik dengan masalah kerugian. Setiap tahunnya, Garuda memang lebih sering mencatatkan kerugian meski beberapa kali berbalik dan meraup laba. Berikut kondisi keuangan Garuda dalam masa kepemimpinan tiga dirut terakhir: 

    1. Masa Emirsyah Satar (21 Maret 2005 - 12 Desember 2014)
    Di sepanjang tahun 2005, Garuda sebenarnya masih mencatatkan kerugian sekitar US$ 70,2 juta, namun jumlahnya menurun dibandingkan kerugian tahun 2004 yang mencapai US$ 82,7 juta. Lalu di ujung masa jabatannya sebelum mengundurkan diri, Emirsyah membawa Garuda Indonesia mencatatkan kerugian semakin dalam sebesar US$ 338,4 juta sepanjang tahun 2014.

    Kerugian ini cukup besar lantaran sepanjang tahun 2013, Garuda Indonesia masih mencatatkan laba sebesar US$ 11,2 juta. Harga bahan bakar dan nilai tukar rupiah pun disebut sebagai penyebab seluruh kerugian ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?