Rabu, 14 November 2018

Ciliwung Diharapkan Tiru Cheongyecheon, Ini Progres Pembenahannya

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan sampah yang menumpuk di aliran Sungai Ciliwung, Jakarta, 20 Mei 2018. Sebanyak 2.500 ton sampah yang diangkut per harinya itu berasal dari sampah warga dan kiriman dari hulu yang terbawa arus aliran Sungai Ciliwung. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pemandangan sampah yang menumpuk di aliran Sungai Ciliwung, Jakarta, 20 Mei 2018. Sebanyak 2.500 ton sampah yang diangkut per harinya itu berasal dari sampah warga dan kiriman dari hulu yang terbawa arus aliran Sungai Ciliwung. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo menginginkan sungai Ciliwung di Jakarta bisa seindah Sungai Cheonggyecheon yang mengalir sepanjang 8,4 kilometer di Seoul, ibu kota Korea Selatan. Keinginan itu disampaikannya dalam kunjungan kerja ke Korea Selatan. “Kalau di Jakarta ada Ciliwung bisa jadi bersih seperti ini, wow, dan itu bisa,” kata Jokowi dalam kunjungan kerjanya, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Selasa, 11 September 2018. 

    Baca: Jalan Bareng Wali Kota, Jokowi Ingin Ciliwung Tiru Cheonggyecheon

    Walau begitu, Korea Selatan sebenarnya telah mulai membantu Jakarta membenahi sebagian Sungai Ciliwung yang ada di samping Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Selain itu, Jakarta dan Seoul pun telah bekerja sama dalam bentuk sister city.

    Namun seberapa jauh pemerintah telah membenahi sungai sepanjang 120 kilometer lebih ini? Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Bambang Hidayah mengatakan memang belum ada arahan khusus terkait kunjungan Presiden tersebut. Sehingga, saat ini Balai Besar masih terus mengerjakan pembenahan sesuai konsep yang sudah ada. Beberapa di antaranya yaitu sebagai berikut:

    1. Normalisasi sungai

    Saat ini, pengerjaan normalisasi sungai berupa pengerjaan dinding turap masih terus dilakukan. Panjangnya mencapai 33,6 kilometer dari jembatan tol T.B. Simatupang, Jakarta Timur hingga pintu air Manggarai, Jakarta Pusat. Pengerjaan turap ini sebenarnya dilakukan dalam kontrak tahun jamak 2014-2016, namun baru 16 kilometer saja yang rampung.

    Salah satu persoalannya adalah terkait pembebasan lahan yang tidak bisa dilakukan di 17 kilometer sisanya sekaligus. Tapi, menurut dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah berkomitmen untuk menyelesaikan pembebasan lahan ini. Targetnya, 33 kilometer dinding turap bisa selesai dibangun awal 2020.

    2. Bendungan Sukamahi dan Ciawi

    Untuk mengendalikan volume air Sungai Ciliwung yang masuk ke Jakarta, pemerintah pun telah memulai kembali pembangunan bendungan Sukamahi dan Ciawi di Kabupaten Bogor.
    Pembangunan dimulai sekitar Oktober 2017 setelah tidak ada kejelasan sejak dicetuskan pada 2004 atau hampir 13 tahun lamanya. Saat itu, Presiden Joko Widodo pun meminta bendungan ini selesai tahun 2019.

    Waduk ini dibangun untuk mengimbangi keberadaan Bendungan Katulampa di Kota Bogor yang selama inui mengatur volume air Ciliwung. Jika pembangunannya rampung, maka Bendungan Sukamahi dan Ciawi ini bisa mengurangi 30 persen air yang masuk ke Jakarta saat periode banjir.Namun sampai saat ini, ada kendala karena pembebasan lahan baru sekitar 8 persen saja.

    3. Sodetan Ciliwung

    Selain itu, BBWS Ciliwung-Cisadane juga tengah menyelesaikan pembangunan Sodetan Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT). Bambang mengatakan kapasitas Ciliwung saat banjir mencapai 570 meter kubik per detik. Jika pintu air Ciliwung Lama mengalirkan 500 meter kubik air ke Kanal Banjir Barat (BKB), maka Sodetan Ciliwung ini nantinya bisa mengalirkan 70 meter kubik sisanya ke KBT.

    Meski dimulai sejak 23 Desember 2013, pembangunan sodetan ini tak kunjung kelar. Menurut Bambang, baru 6 kilometer dari total 12,7 kilo yang akan dibangun dan lagi-lagi karena masalah lahan. Sampai saat ini, DKI pun masih terus berunding dengan warga yang terdampak oleh pembangunan sodetan ini.

    4. Naturallisasi sungai

    Terakhir yaitu rencana Gubernur Anies Baswedan yang lebih menginginkan naturalisasi sungai Ciliwung secara alamiah, ketimbang normalisasi lewat dinding turap. Bambang pun telah menanyakan konsep seperti apa yang diinginkan oleh Anies karena banyak persoalan di lapangan. Mulai dari keterbatasn lahan hingga kondisi tanah.

    Meski begitu, konsep naturalisasi masih bisa dilakukan di beberapa titik sungai seperti di sekitar Jembatan Kalibata, Jakarta Timur. Tapi sampai ini, belum ada konsep dan kriteria yang lengkap soal rencana ini dari DKI. "Sebenarnya kami yang rencanakan desain bisa juga, cuma takutnya desain kami gak berkenan," kata Bambang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?