Kamis, 20 September 2018

Bank Indonesia Berharap Perang Dagang AS - Cina Reda di 2019

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur BI Perry Warjiyo (dua dari kiri) bersama jajarannya memberikan keterangan kepada wartawan saat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. BI juga menaikkan suku bunga <i>deposit facility</i> 25 bps menjadi  4,75 persen dan suku bunga <i>lending facility</i> 25 bps menjadi 6,25 persen. TEMPO/Tony Hartawan

    Gubernur BI Perry Warjiyo (dua dari kiri) bersama jajarannya memberikan keterangan kepada wartawan saat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu, 15 Agustus 2018. BI juga menaikkan suku bunga deposit facility 25 bps menjadi 4,75 persen dan suku bunga lending facility 25 bps menjadi 6,25 persen. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed akan menaikkan suku bunga acuan hingga 2019. Menurut Mirza, BI mengasumsikan siklus kenaikan suku bunga Amerika di 2019 sudah selesai.

    "Karena kan dari 0,25 persen kemudian naik sampa 2 persen, akan masih naik lagi di 2019. Kami perkirakan bisa 3 persen, 3,25 persen bisa juga 2,75 persen. Jadi 2019 itu ada yang bilang 2,75 persen, ada yang bilang 3,0 persen, 3,25 persen, tapi intinya 2019 itu kenaikan suku bunga Amerika sudah stop," kata Mirza di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Senin, 10 September 2018.

    Menurut Mirza kalau kenaikan suku bunga sudah berhenti, maka tekanan dari sentimen negatif itu juga di 2019 sudah hilang. Kedua, kata Mirza, perang dagang Amerika dengan Cina yang saat ini terjadi diharapkan mereda di 2019. 

    Dengan begitu Mirza yakin, defisit transaksi berjalan atau current account deficit akan berada di bawah 3 persen. "Kami percaya CAD di 2019 bisa dijaga di bawah 3 persen PDB," ujar Mirza.

    Mirza mengatakan kunci defisit current account atau defisit transaksi berjalan atau defisit ekspor, impor barang dan jasa ini harus bisa dikurangi.

    "Jadi kalau tahun lalu defisit transaksi berjalan sekitar US$ 17 miliar, 2016 juga defisit US$ 17 miliar, full year yah. Kalau ini semester 1 kan kita sudah US$ 13,5 miliar. Itu yang harus dikurangin karena defisit itu kan ditutupnya dari PMA (Penanaman Modal Asing) dan portfolio yang masuk," kata Mirza.

    Mirza mengatakan portfolio yang masuk pada semester I ini netnya itu masih defisit, masih outflow. Hal itu, menurut Mirza berarti defisit ekspor, impornya yang harus dikurangi.

    Menurut Mirza pemerintah sudah membuat upaya dengan menunda proyek-proyek infrastruktur yang belum dimulai. "Kalau saya baca ada sekitar 15 miliar proyek infrastruktur yang belum mulai yang akan di-reschedule," kata Mirza.

    Kemudian juga pencampuran bahan bakar minyak dengan 20 persen kelapa sawit menjadi B20. Bank Indonesia berharap hal itu bisa mengurangi impor minyak, karena neraca ekspor impor minyak Indonesia juga defisit.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.