Rabu, 26 September 2018

Mengenal Risha, Inovasi Rumah Tahan Gempa yang Disukai Milenial

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat baru-baru ini merilis konsep pembangunan rumah inovasi bernama Risha. (dok. LitbangPU)

    Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat baru-baru ini merilis konsep pembangunan rumah inovasi bernama Risha. (dok. LitbangPU)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat baru-baru ini merilis konsep pembangunan rumah inovasi bernama Risha. Risha kepanjangan dari rumah instan sederhana sehat ini menjadi solusi alternatif hunian pilihan milenial.

    Baca: Wijaya Karya Kaji Rencana Pembangunan 2.000 Rumah Rakyat Namibia

    Travel Blogger Mochamad Takdis telah membagikan pengalamannya membangun rumah dengan menggunakan sistem Risha di akun Twitter-nya. Ternyata hal itu mendapatkan respons positif oleh pengikutnya yang mayoritas merupakan generasi milenial.

    "Saya mau sharing tentang usaha saya bikin rumah, karena ternyata, bikin rumah itu tidak begitu mahal! Apalagi untuk milenial yang katanya tidak akan bisa beli atau bikin rumah. Mari kita patahkan anggapan itu!" ujar Mochamad Takdis, dikutip dari akun Twiter-nya @takdos, Ahad, 9 September 2018.

    Lebih jauh Adis menyebutkan, pembangunan rumah dengan menggunakan konsep Risha mampu menekan jumlah dana yang harus dikeluarkan, bahkan tidak menghabiskan anggaran lebih dari Rp 1 miliar yang sudah termasuk dana pembangunan dan harga beli tanah.

    Adis mengaku telah membeli tanah di daerah Utara Bandung seharga Rp 2,3 juta per meter persegi dengan luas tanah 230 meter persegi atau dengan total Rp 529 juta pada tahun lalu. Pembangunan rumah dengan teknik konvesional umumnya dikenakan tarif Rp 4,5 juta hingga Rp 6 juta per meter persegi sesuai dengan luas bangunan yang diinginkan.

    "Kalau yang saya ingin itu rumah 2 lantai dengan ukuran luas sekitar 120 meter persegi, sehingga totalnya Rp 540 juta hingga Rp 720 juta ditambah harga tanah totalnya Rp1 miliar lebih. Kalau dengan Risha, bangun rumahnya tidak lebih dari Rp 200 juta," ujarnya.

    Bahkan, menurut Adis, jika konsep bangunan rumah lebih sederhana dan terdiri atas satu lantai bangunan, maka total dana pembangunan yang dikeluarkan dengan menggunakan teknik Risha bisa mencapai Rp 60 juta saja. "Jadi, katakanlah kalian beli tanah 100 meter persegi dengan harga di bawah Rp 100 juta. Banyak ini (tanah dengan luas tersebut), tapi ya lokasinya jauh dari kota. Terus, kalian bangun rumah dengan sistem Risha, ya paling abis Rp 200 juta saja," katanya.

    Risha merupakan rumah terjangkau dengan konsep knock down yang proses pembangunannya tidak membutuhkan semen dan bata, melainkan dengan menggabungkan panel-panel beton dengan baut, sehingga pembangunan rumah ini dapat diselesaikan dengan waktu jauh lebih cepat.

    Sistem Risha juga dikenal sebagai rumah anti gempa dan saat ini digunakan Kementerian PUPR untuk membangun ulang rumah masyarakat di Lombok terdampak bencana alam gempa. Namun, pembangunan rumah dengan konsep Risha memiliki kelemahan yaitu struktur bahannya yang tebal dan kaku sehingga desain bangunan tidak fleksibel dan cenderung kaku.

    Adis berharap dengan adanya sistem konsep Risha oleh Kementerian PUPR tersebut dapat mematahkan anggapan beberapa lembaga survei yang menyatakan milenial tidak bisa beli atau bangun rumah akibat menipisnya hunian yang terjangkau bagi milenial. "Kalau properti semakin mahal, kita yang harus semakin pintar mengakalinya," ujar Adis.

    Sebelumnya Kementerian PUPR memperkenalkan rumah tahan gempa dengan menggunakan teknologi Risha usai gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kepala Pusat Litbang Permukiman Balitbang Kementerian PUPR Arief Sabarudin menyebutkan teknologi itu menggunakan panel knock down sehingga mudah dipasang dan lebih cepat penyelesaiannya, serta biaya lebih murah dibandingkan konstruksi rumah konvensional.
     

    Arief Sabarudin mengatakan dengan jumlah rumah yang rusak cukup banyak dan kebutuhan proses rekonstruksi rumah yang cepat, maka produksi panel-panel beton Risha akan dilakukan di workshop sehingga kualitas dan ukurannya bisa terstandardisasi.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Karen Agustiawan Ditahan Karena Akuisisi Pertamina di Blok BMG

    Kejaksaan Agung menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investigasi Pertamina berupa akuisisi aset BMG.