Jumat, 16 November 2018

Gempa Kembali Guncang Lombok, Kali ini Kekuatan 5,3 Skala Richter

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi atap masjid yang rusak parah akibat gempa di Desa Trengilut, Senaru, Lombok Utara, NTB, Rabu, 1 Agustus 2018. Tak hanya bangunan masjid yang terdampak gempa bumi pada Ahad, 29 Juli lalu, beberapa pura juga mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. ANTARA

    Kondisi atap masjid yang rusak parah akibat gempa di Desa Trengilut, Senaru, Lombok Utara, NTB, Rabu, 1 Agustus 2018. Tak hanya bangunan masjid yang terdampak gempa bumi pada Ahad, 29 Juli lalu, beberapa pura juga mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. ANTARA

    TEMPO.CO, Mataram - Gempa bumi kembali mengguncang Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gempa tektonik berkekuatan 5,3 Skala Richter (SR), Selasa, 11 September 2018 pada pukul 04.22 WITA atau 03.22 WIB, namun tidak berpotensi tsunami.

    Baca: Darmin Nasution Bantah Fahri Hamzah Soal Data Gempa Lombok

    Berdasarkan analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 8,41 lintang selatan dan 116,52 bujur timur. "Pusat gempa berada di darat pada jarak 12 kilo meter (km) arah barat laut Kabupaten Lombok Timur, pada kedalaman 12 km," kata Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto, Selasa, 11 September 2018.

    Lebih jauh Agus mengatakan dampak gempa bumi berdasarkan Peta Tingkat Guncangan (Shakemap) BMKG dan informasi masyarakat menunjukkan bahwa guncangan dirasakan di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara II SIG-BMKG (V MMI). Warga di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah dan Kota Mataram, juga merasakan getaran hingga IV MMI.

    Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. "Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," kata Agus.

    Gempa bumi tersebut menyebabkan warga di Kota Mataram, berhamburan keluar rumah karena khawatir bangunan roboh. Zuhriatul, salah seorang warga Kelurahan Kebon Sari, Kota Mataram, mengaku kaget begitu merasakan guncangan ketika masih tertidur bersama anak-anaknya.

    "Saya langsung terbangun dari tidur dan keluar rumah sambil menggendong anak. Para tetangga juga berhamburan keluar rumah," kata Zuhriatul. Ibu dua anak itu sebelumnya memilih tidur di tenda terpal yang dibangun di Jalan Majapahit, Kota Mataram, bersama anggota keluarganya.

    Hal itu dilakukan karena masih sering terjadi gempa susulan pada malam hari. Namun, karena khawatir dengan kondisi kesehatan dua anaknya yang berusia 6 dan 3 tahun, ia dan suaminya memutuskan tidur di ruang tamu tanpa mengunci pintu dan gerbang rumah. "Biar cepat keluar rumah kalau terjadi gempa disertai listrik padam," ucap Zuhriatul.

    Berdasarkan data Aksi Cepat Tanggap (ACT) hingga 27 Agustus, rentetan gempa bumi berkekuatan di atas 6 hingga 7 Skala Richter yang terjadi sejak 29 Juli hingga 19 Agustus, menyebabkan sebanyak 564 orang meninggal dunia. Bencana alam tersebut juga menyebabkan sebanyak 390.529 orang mengungsi.

    Selain itu, sebanyak 77.976 rumah dan ratusan tempat ibadah serta sekolah rusak berat. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 7,7 triliun.

    Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono sebelumnya mengatakan terus melakukan pembangunan infrastruktur di Lombok pascagempa Lombok. Dia mengatakan bangunan utama yang segera dibangun ialah pasar, sekolah, masjid, dan perumahan.

    Basuki menjelaskan gempa tersebut berkekuatan besar sehingga menambah kerusakan di titik yang berbeda. Kementerian PUPR membangun bangunan rusak tersebut dengan teknologi Risha.

    Baca: Ini Data Lengkap Kerusakan Gempa Lombok Versi BNPB

    Risha merupakan teknologi struktur bangunan tahan gempa. Direktur Jenderal Cipta Karya Danis Hidayat Sumawilaga menjelaskan bangunan tersebut berbeda dengan bangunan sebelumnya yang ada di Lombok.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.